Jumat, 07 September 2012

Aku belum ingin



Suasana masih sedemikian ramai. Ramai lalu lalang warga yang selesai mengikuti tahlil atas wafatnya nenek beberapa waktu lalu. Nek Uti, Nenek dari calon pasanganku. Aku masih mendampingi ibunda dan kakak dari arjunaku, sedang lelakiku sudahlah terbang menjalankan tugas di luar kota. Mereka jelas masih sendu, tak terkecuali aku. Tapi ucap dan cerita kami bergulir begitu saja. Bergulir bak angin yang membawa sendu itu berlalu. Meski sesaat.

Tetiba saja, tanya bergulir pada aku dan arjunaku, mereka mahfum finish hubungan kami. Tanya demi tanya bergulir. Bahwa kewajiban wanita atas orangtuanya terputus dan berganti mengabdi pada sang suami, itu poinnya. Sedang anak laki-laki tetaplah bertanggung jawab atas orang tuanya meski sudah menikah. Sang kakak yang segera melepas masa lajang pun sudah mempersiapkan semua itu. Merasa waktunya kian sempit “menjaga” sang bunda, ia menitip. Suatu saat jika aku menjadi pendamping arjunaku, jaga sang bunda karena kewajibanku atas orang tua suamiku kelak. Menjaga, tinggal bersama. Aku terdiam. Sungguh. Aku menyayanginya, ya sayang. Sudah seperti keluargaku mereka ini. Tapi…

Perjalanan dari kediaman lelakiku sungguh senyap. Aku mengunci rapat mulut, aku berurai tangis. Untunglah angkutan malam itu tak begitu ramai. Bulir air mataku pun tersamar. Beberapa waktu lalu hasrat menikah itu memang begitu haru menggebu. Aku selalu berdoa segera halalkan kami. Tapi malam itu, tiba-tiba otakku terhenti memikir akad. Memoriku berjalan mundur dan bersahutan dengan nurani.

Jika aku segera menikah, aku akan keluar dari rumah dan ikut suamiku…
Tinggal bersama dan menjaga sang bunda bersama…
Itu tentu menyenangkan, tiadalah beban…
Tapi…
Bagaimana orang tuaku?
Aku bungsu, kakak sudah menikah lebih dulu dan ia pun sudah berpisah dari rumah…
Rabb, ibuku? Ayahku?
Terbayang jelas sepinya mereka, hanya tinggal berdua…
Terbayang aku mesti meninggalkan mereka…
Terbayang aku belumlah membahagiakan mereka…
Terbayang ibu yang setia merawat saat aku sakit belum lama ini…
Terbayang ayah yang baru pulang kerja, masih berpeluh dan bertanya keadaanku…
Rabb, kemudian aku berfikir, aku belum ingin menikah dulu…
Aku ingin mereka bahagia dulu, tuntas membahagiakan mereka sebelum aku mengabdi pada suamiku kelak…

Obrolanku dengan sang kakak, benar-benar mengingatkanku tentang renungan perjalanan tadi. –Rabb, sempatkan aku dulu membahagiakan dua mutiara hidupku selagi ada waktu—. Gontai aku melangkah masuk rumah. Orang tuaku masih menunggu meski kantuk ku lihat jelas. Tak lama mereka tertidur. Sungai hangat membasahi pipi. Ku tatap lekat mereka, pulas. Tangis makin menjadi. Ah, belum seberapa yang ku lakukan. Masakah iya, aku ingin meninggalkan mereka cepat dan membangun kehidupan sendiri? Mereka belumlah mengecap bahagia yang sempurna. Aku tergugu, aku lunglai. Lagi ku ucap dalam lirih, Rabb, sempatkan aku dulu membahagiakan dua mutiara hidupku selagi ada waktu.


Dini Hari, Syawal 1433 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar