![]() |
| Inspirasiku masih saja memancarkan cahaya ketulusannya dalam senjanya |
Juni 1995, seorang Langit Jingga kecil resmi menjadi siswa sekolah dasar salah satu Yayasan Angkatan Darat. Usianya belumlah genap 6 tahun. Dulu belum ada peraturan yang mengatur usia minimum seorang anak masuk sekolah dasar. Aku yang menghabiskan 1 tahun di taman kanak-kanak pada yayasan yang sama, merasa bosan dengan rutinitas taman kanak-kanak yang pada masa itu diisi dengan menyanyi dan bermain. Aku sudah tak sabar mengenakan putih merah yang sepertinya sangat dewasa dan keren *menurutku saat itu :)*. Dan sampailah aku pada juni cerah di awal masa sekolah dasarku. Masa yang indah untuk Langit Jingga kecil. Langit Jingga yang berkuncir air mancur. Si kecil, si mungil.
Aku begitu mencintai dunia baruku. Dunia sekolahku dengan segala ragam pernak-perniknya. Pelajaran, lingkungan, teman-teman dan guruku. Ya, guru kesayanganku. Sosoknya yang saat itu separuh baya, tegas namun tak mengurangi pancaran kesabarannya. Rambutnya sedikit ikal di bawah telinga selalu berpenjepit hitam bergelombang. Selalu begitu. Ia pun mungil, senyumnya khas manis pada bibir tipisnya. Dengan seragam coklatnya, jam tangan di pergelangan kanannya *sekarang aku pun mengikuti jejaknya, mengenakan jam pada pergelangan kanan*, caranya membenahi papan tulis hitam yang berpenahan kayu silinder. Ya semua gerak-geriknya terekam jelas dalam ingat. Tercatat rapi sebagai arsip idola yang melekat, sampai saat ini. Begitu ku idolakan dirimu Bu. Bu Tanih Mintarsih.
Ya, dengan segala catatan rapi itu, dari kecil setiap ditanya mau jadi apa, maka tegas ku ucap “Guru”. Entah kenapa. Melihatnya mengajar di depan kami semua, menginspirasiku akan kesabaran, ketulusan dan kemurnian cinta yang tak terputus. Betapa dari menit ke menit dalam kelas, ia isi dengan dedikasinya yang tinggi. Membimbing membaca tulis dengan segenap tenaga. Termasuk pada salah satu anggota kelas yang bongsor *termasuk usianya juga bongsor*. Bu Tanih tak kehilangan sabar mengajarinya, meski sekian waktu ia tinggal kelas di kelas paling bawah di sekolah dasar. Bu tanih hanya tertawa sambil mengelus-elus punggungku ketika aku menangis di hari pertamaku di sekolah dasar. Ibu ke 2 yang menyayangi kami semua. Tanpa kecuali. Tanpa tapi :).
Dia adalah inspirasi terbesarku hingga sampai pada mimpiku yang sekarang. Guru. Sejauh apapun aku melangkah, menemui sosok lain, tetap ia yang membayang dalam hari-hariku. Sayangnya, masa itu yang belum marak ponsel genggam sehingga aku tak lagi menjalin komunikasi dengannya. Rumahnya tak ku ingat lagi. Sudah nyaris 20 tahun terpisah. Bu, rindu nian. Tersiksa aku dibayangi sosokmu, namun tak lagi bisa ku sapa nyata. Aku belum menemuimu, inspirasiku.
Hingga satu hari dipertemuan pertama dengan rekan sekolah dasar dari komunikasi media sosial mendorong niatku untuk menjalin silaturahim dengannya. Gayung pun bersambut. Rekan setuju dan menjadwalkan pertemuan untuk mengunjunginya. Nomor ponsel genggamnya pun ku dapat. Rasanya becucuran air mata ketika menjalin kata denganmu, Bu. Bu, tetiba bayangan 18 tahun lalu muncul hebat. Tiadalah aku tanpa bimbinganmu.
Saat itu pun tiba. Medium 2013, kala libur hari raya, kami kunjungi istanamu. Haru berderai kau peluk satu demi satu muridmu 18 tahun silam. Matamu basah. Tak banyak yang terlontar, kecuali terima kasih dan terima kasih. Katamu, terima kasih sudah mengingatmu. Tentu bu, manalah kami bisa lupa? :)
Sudah senja kini inspirasiku. Lemah langkahmu sibuk menjamu. Bu, kau tetap saja begitu. Tetap menyayangi kami. Masih sama.
![]() |
| Dan kau akan selalu ada di hati kami, duhai inspirasi |
Ketika bercengkrama pun jadi indah terasa. Kau urai apa yang terjadi selepas kami pergi. Tiap jengkal kau bagi. Kau tanyakan pula bagaimana kami. Betapa bahagianya kau sadari, banyak dari kami yang mengikuti jejakmu, menjadi guru. Saat itu, aku belumlah menjadi guru. Tapi niatku masih membulat. Setidaknya aku harus jadi Guru yang baik untuk anak-anakku kelak. Ku tangkap semua pesanmu pada kami. Dan ini jadi bagian terpenting yang ku ingat.
“Bahwa ketulusan adalah pondasi awal ketika mengajar. Lakukan sebaik-baik hal untuk anak-anakmu. Dengan ketulusan tak akan ada keluhan atas apapun dan bagaimana pun anak yang kau hadapi. Kuncinya tulus. Tuluslah dalam mengajar. Dan semua akan mengalir begitu saja……”
Indah nian pesanmu Bu. Teduh rasanya. Dan detik ini, ketika aku menghadapi anak-anak dengan segala macam tingkah lakunya, tiada lagi keluhan. Belajar dari ketulusan yang kau ajarkan, tanamkan. Ya, benar sekali Bu. Tiadalah keluhan atas apapun di atas segala ketulusan yang tercurahkan. Terima kasih atas segala hal baik yang kau tanamkan duhai inspirasiku. Tetaplah menjadi sinar terang di hari kami. Dan semoga kelak segala kebaikanmu menjadi pemberat amal baik di alam yang abadi. Aamiin… :)
Langit Jingga,
15 Desember 2013
“Bahwa ketulusan adalah pondasi awal ketika mengajar. Lakukan sebaik-baik hal untuk anak-anakmu. Dengan ketulusan tak akan ada keluhan atas apapun dan bagaimana pun anak yang kau hadapi. Kuncinya tulus. Tuluslah dalam mengajar. Dan semua akan mengalir begitu saja……”
Indah nian pesanmu Bu. Teduh rasanya. Dan detik ini, ketika aku menghadapi anak-anak dengan segala macam tingkah lakunya, tiada lagi keluhan. Belajar dari ketulusan yang kau ajarkan, tanamkan. Ya, benar sekali Bu. Tiadalah keluhan atas apapun di atas segala ketulusan yang tercurahkan. Terima kasih atas segala hal baik yang kau tanamkan duhai inspirasiku. Tetaplah menjadi sinar terang di hari kami. Dan semoga kelak segala kebaikanmu menjadi pemberat amal baik di alam yang abadi. Aamiin… :)
Langit Jingga,
15 Desember 2013


Tidak ada komentar:
Posting Komentar