Semburat matahari pagi masuk lewat celah jendela kamarku
pagi ini. Pagi di mana hamper sepenggal malam mata ini terjaga tak mau dipejam.
Dan kini aku sudah terbangun. Menatap langit-langit kamar yang bertabur
bebintang kertas berwarna biru. Aku masih diam. Memandang dengan sesekali
berkedip, memikirkan sesuatu.
Aku menghela nafas sebentar. Masih berbaaring, kutengok
sebelahku masih kosong. Suamiku masih ‘berjihad’ di luar sana. Entah berperang
dengan apalagi selain dengan cuaca dan kusutnya project. Malam sebelumnya ia sempat pulang dan bertanya perkara
‘telat’nya haidku. Aku terdiam pagi ini, memandang tespack pink yang 2hari sebelumnya telah kubeli dan kucoba 1. Walau
hasilnya masihlah bergaris 1.
6 hari sudah ‘si tamu’ belum datang dari tanggal yang kucatat.
Antara harapan dan ketakutan. Apa iya ada kabar baik? Atau kah siklusku tak jua
mau bersahabat? Sengaja tak ada kata apa-apa yang ku lontar pada suamiku, pada
siapapun, selain pada layar. Setidaknya sampai malam kemarin.
Pagi ini, masih dengan segudang harapan diiringi ketakutan,
aku longok alat tes itu lagi. Untuk
kali kedua di minggu ini. Aku kembali mencoba, kembali berharap. Bismillah.
Sekian menit aku menunggu, garis itu mucul. Ya, muncul. Tapi
hanya satu garis tak ada lagi. Lagi-lagi aku menarik nafas di sudut kamar
mandi. Suamiku, ingin rasanya aku
bersandar di bahumu kali ini. Menumpahkan semua kegalauan yang aku rasa. Tapi
mas, lagi, aku tak mau kau turut kecewa. Sekecewa aku kali ini untuk yang
kesekian kali.
Aku beranjak menuju kamar, ku tata strip bergaris satu. Ada ego berkecamuk di benak. Masih berharap,
STRIP ITU KELIRU. PASTI KELIRU. Pasti ada harapan di bulan ini, pasti. Ah,
konyol sekali aku selalu berharap strip itu salah. Sampai harapan itu pupus
dengan sendirinya ketika ‘tamuku’ akhirnya tiba.
Kadang terselip pikiran burukku padaNYA. Pada Pemilik
Segala. Banyak ketemui yang justru membenci kehamilannya. Ada yang menolak dan
berniat menggugurkannya. Adanya bersumpah serapah ingin segera mengakhiri
kehamilannya. Sedang bagi kami yang mendamba? Kenapa Rabb?
Hingga sampai detik di mana aku beristighfar, aku sadar, ada
banyak hikmah dan cerita di balik segala harap yang masih menggantung. Bukankah
IA selalu cinta pada hambaNya?
Ketika kini masih belum terkabul hajatmu, betapa Cinta dan
SayangNYA menginginkanmu begitu dekat dan mesra denganNya lewat doa dan
kepasrahan?
Dan tiadalah seseorang dikatakan beriman tanpa ujian. Betapa
ujian demi ujian adalah bentuk sayangNYA untu mengokohkan keimananmu?
Betapa , betapa, betapa…..
Betapa , betapa, betapa…..
Lalu mengapa masih bersedih, sayang?
Lalu mengapa kau hitung apa yang belum kau dapat sementara
jutaan kebahagiaan sudah lebih dulu kau miliki atau malah mungkin luput untuk
kau syukuri?
Allah Ya Ghofar….
Ampuni kami yang sering berprasangka buruk padaMu.
Ampuni kami yang sering berprasangka buruk padaMu.
Ampuni kami yang lebih banyak meminta dan menggerutu tanpa
pernah sadar banyak hikmah dalam garisan yang KAU pilihkan.
Ampuni kami atas dosa-dosa yang menutup doa kami padaMU.
Allah Ya Rahman Ya Rahiim……
Betapa sayangMu sungguh tak tergambarkan seandainya kami mau
mencerna.
Betapa Engkau Mengasihi kami dengan caraMU yang kadang kami
salah arti….
Allah Ya Mujiib….
Engkaulah Dzat Yang Maha mengabulkan…
Mengabulkan apa saja setiap doa dan harapan yang hambaMu gantungkan padaMu.
Allah Ya Mujiib….
Engkaulah Dzat Yang Maha mengabulkan…
Mengabulkan apa saja setiap doa dan harapan yang hambaMu gantungkan padaMu.
Maka kami percaya, Engkau pun pasti mengabulkan doa-doa kami
dalam hening dan pasrah.
“Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari
kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
QS. Al Anbiya: 88
Ya Allah Ya Waarits….
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada
Tuhannya. ‘Wahai Tuhanku, janganlah Engku biarkan aku hidup seorang diri (tanpa
keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.’
Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami anugerahkan kepadaNya
Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh mereka selalu
bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan
penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk terhadap Kami.”
QS. Al Anbiya: 89-90
Teruntuk sahabat, kerabat, rekan, pembaca dan terlebih saya
dan suami dan para pendamba buah hati.
Yakinlah semata semua karena Cinta dan SayangNya demi kita
lebih dekat denganNya.
Wallahu’alam Bisawab.
Wallahu’alam Bisawab.
Penuh cinta, Medium Maret 2015,
Langit Jingga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar