Kamis, 19 Maret 2015

Untukmu (ku), Sang Pendamba Buah Hati

Semburat matahari pagi masuk lewat celah jendela kamarku pagi ini. Pagi di mana hamper sepenggal malam mata ini terjaga tak mau dipejam. Dan kini aku sudah terbangun. Menatap langit-langit kamar yang bertabur bebintang kertas berwarna biru. Aku masih diam. Memandang dengan sesekali berkedip, memikirkan sesuatu.
Aku menghela nafas sebentar. Masih berbaaring, kutengok sebelahku masih kosong. Suamiku masih ‘berjihad’ di luar sana. Entah berperang dengan apalagi selain dengan cuaca dan kusutnya project. Malam sebelumnya ia sempat pulang dan bertanya perkara ‘telat’nya haidku. Aku terdiam pagi ini, memandang tespack pink yang 2hari sebelumnya telah kubeli dan kucoba 1. Walau hasilnya masihlah bergaris 1.
6 hari sudah ‘si tamu’ belum datang dari tanggal yang kucatat. Antara harapan dan ketakutan. Apa iya ada kabar baik? Atau kah siklusku tak jua mau bersahabat? Sengaja tak ada kata apa-apa yang ku lontar pada suamiku, pada siapapun, selain pada layar. Setidaknya sampai malam kemarin.
Pagi ini, masih dengan segudang harapan diiringi ketakutan, aku longok alat tes itu lagi. Untuk kali kedua di minggu ini. Aku kembali mencoba, kembali berharap. Bismillah.
Sekian menit aku menunggu, garis itu mucul. Ya, muncul. Tapi hanya satu garis tak ada lagi. Lagi-lagi aku menarik nafas di sudut kamar mandi.  Suamiku, ingin rasanya aku bersandar di bahumu kali ini. Menumpahkan semua kegalauan yang aku rasa. Tapi mas, lagi, aku tak mau kau turut kecewa. Sekecewa aku kali ini untuk yang kesekian kali.
Aku beranjak menuju kamar, ku tata strip bergaris satu. Ada ego berkecamuk di benak. Masih berharap, STRIP ITU KELIRU. PASTI KELIRU. Pasti ada harapan di bulan ini, pasti. Ah, konyol sekali aku selalu berharap strip itu salah. Sampai harapan itu pupus dengan sendirinya ketika ‘tamuku’ akhirnya tiba.
Kadang terselip pikiran burukku padaNYA. Pada Pemilik Segala. Banyak ketemui yang justru membenci kehamilannya. Ada yang menolak dan berniat menggugurkannya. Adanya bersumpah serapah ingin segera mengakhiri kehamilannya. Sedang bagi kami yang mendamba? Kenapa Rabb?



Hingga sampai detik di mana aku beristighfar, aku sadar, ada banyak hikmah dan cerita di balik segala harap yang masih menggantung. Bukankah IA selalu cinta pada hambaNya?
Ketika kini masih belum terkabul hajatmu, betapa Cinta dan SayangNYA menginginkanmu begitu dekat dan mesra denganNya lewat doa dan kepasrahan?
Dan tiadalah seseorang dikatakan beriman tanpa ujian. Betapa ujian demi ujian adalah bentuk sayangNYA untu mengokohkan keimananmu?

Betapa , betapa, betapa…..

Lalu mengapa masih bersedih, sayang?
Lalu mengapa kau hitung apa yang belum kau dapat sementara jutaan kebahagiaan sudah lebih dulu kau miliki atau malah mungkin luput untuk kau syukuri?

Allah Ya Ghofar….

Ampuni kami yang sering berprasangka buruk padaMu.
Ampuni kami yang lebih banyak meminta dan menggerutu tanpa pernah sadar banyak hikmah dalam garisan yang KAU pilihkan.
Ampuni kami atas dosa-dosa yang menutup doa kami padaMU.

Allah Ya Rahman Ya Rahiim……

Betapa sayangMu sungguh tak tergambarkan seandainya kami mau mencerna.
Betapa Engkau Mengasihi kami dengan caraMU yang kadang kami salah arti….

Allah Ya Mujiib….

Engkaulah Dzat Yang Maha mengabulkan…
Mengabulkan apa saja setiap doa dan harapan yang hambaMu gantungkan padaMu.
Maka kami percaya, Engkau pun pasti mengabulkan doa-doa kami dalam hening dan pasrah.

“Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
QS. Al Anbiya: 88

Ya Allah Ya Waarits….

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya. ‘Wahai Tuhanku, janganlah Engku biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.’
Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami anugerahkan kepadaNya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk terhadap Kami.”
QS. Al Anbiya: 89-90

Teruntuk sahabat, kerabat, rekan, pembaca dan terlebih saya dan suami dan para pendamba buah hati.
Yakinlah semata semua karena Cinta dan SayangNya demi kita lebih dekat denganNya.
Wallahu’alam Bisawab.




Penuh cinta, Medium Maret 2015,

Langit Jingga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar