Jangan sebut anda guru
Kalau anda tak bisa digugu dan dan ditiru
Kalau anda tak mampu melakukan apa yang anda serukan
Kalau anda hanya mampu memirintah tanpa mengimplementasikan
Sungguh apa pantasnya anda digugu dan ditiru kalau begitu?
Pantaslah bila anak-anak di belakang anda tak jua minat mematuhi...
Jangan sebut anda fasilitator
Kalau anda tak bisa menjembatani kebutuhan murid dalam belajar
Kalau anda tak mendengar keinginan murid dalam menggali ilmu
Kalau anda masih sibuk sendiri dengan caramu sendiri
Sungguh anda hanya bisa dibilang sebagai atasan yang otoriter, yang tak peduli suara dari bawah
Padahal fasilitator adalah sejajar, bukan vertikal
Jangan sebut anda pendidik
Kalau anda masih tak bisa menyampaikan dengan bahasa dan polah yang mendidik
Kalau lah amarah yang muncul dari kesalahan murid menjadikan anda seperti hilang kependidikan
Lupa kah kalau anda sedang mendidik?
Lupa kah kalau anda sedang mencetak generasi berpendidikan?
Ya, anda hanya manusia, bukan nabi
Tapi jangan jadikan itu alibi
Dan....
Jangan sebut anda pengajar
Kalau anda hanya bisa menyampaikan bahan ajar
Kalau anda justru berhenti belajar
Kalau anda merasa belajar selama belasan tahun, cukup untuk bekal
Sungguh, pengajar adalah seorang penyampai yang seyogyanya tidak pernah berhenti belajar sampai kapan pun
Tidak, saya tidak sedang menunjuk si anu atau si anu
Saya sedang bicara dengan cermin
Setidaknya saya sedang evaluasi
Setidaknya saya sedang "menampar" diri saya sendiri
Pantaskah anak-anak menyapa saya ibu guru?
Pantaskah, pantaskah, pantaskah?
Atau hanya sekedar titel yang tak punya makna istimewa?
Sebuah renungan Langit Jingga - 16 Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar