Sebagian dari kita sering mengeluh berupa ragam bentuk
dan ucap. Tentunya ketika sesuatu terjadi di luar dari ingin. Pekerjaan yang
tidak sesuai harap, nilai kuliah yang tak kunjung merangkak naik, sikap suami
yang kurang terpuji, anak yang sering kali membangkang dari orang tua dan
banyak lagi lainnya. Mungkin sekarang
rekan pembaca cepat-cepat ambil cermin dan ngaca
dalem-dalem kemudian segera berujar
“iya juga ya?”. Hehehe :).
Kelihatannya memang sepele hanya secuil kata yang
kadang disikapi sebagai curcol
emak-emak lagi belanja, curhatan mahasiswi pasrah yang gak lulus –eh— atau
sekedar cerita warung kopi semata. Tapi sungguh efek pembicaraan itu tidak
menghasilkan efek apa-apa selain menambah timbunan sampah keluhan yang akan
membebani hidup. Bahkan parahnya menimbun kebahagiaan kita. Gak percaya? Ayo
kita urai satu per satu.
Hal pertama yang perlu kita sikapi adalah berhenti
mengeluhkan ketidaknyamanan situasi. Ada yang bilang dengan bercerita, numpahin
uneg-uneg setidaknya mengurangi beban
masalah –katanya—. Gak ada yang salah sih dengan statement itu. Tapi agaknya lebih tepat kalau kita biasakan tidak
mendramatisir kondisi. Masalah berat sekalipun mampu kita atasi kok tanpa
konfrensi pers untuk membagi beban masalah –ups—. Bukannya menambah mudah,
justru secara tidak langsung keluhan akan menambah beban tiap diucapkan dan
makin menimbun kebahagian hidup. Jika setiap masalah dikeluhkan,maka bayangkan
tumpukan beban yang akan menimbun bahagia yang sebenarnya lebih banyak kalau
kita bersyukur. Misalnya masalah uang belanja yang dirasa kurang dari suami.
Daripada dikeluhkan, hanya akan terus membebani diri. Merasa kurang dan
merasa makhluk paling menderita sejagad
raya. Padahal, kalau dia banyak bersyukur, dia jauh lebih bahagia. Bersyukur
masih bisa hidup nyaman, bahagia hidup bersama-sama orang yang dicintai. So,
pilih mana, terus mengeluh dengan alibi mengurangi beban atau mau belajar
bersyukur dan menikmati hidup?
Kedua, setiap ketidaksesuaian yang kita rasa itu
tentu tidak sertamerta datang begitu saja. Menilik dari firman Allah bahwa
Allah itu Maha Memantaskan. Artinya, Allah akan menyandingkan yang baik dengan
yang baik dan sebaliknya yang buruk dengan yang buruk. Jadi hal pertama yang
kita cek saat menemukan ketidaknyamanan adalah ambil cermin. –Hahhh cermin????
Buat apa coba???— Tapi ini beneran deh. Ambil cermin sambil muhasabah tapinya,
bukan buat senyum-senyum sendiri di
depan cermin. Kita muhasabah, bicara pada diri kita sendiri. Apa yang salah
pada diri kita sampai kita ada di kondisi seperti ini. Misalnya “kenapa ya anak
saya tuh kalo dikasih tau susah banget!”. Nah, buru-buru dah ambil kaca. Ngobrol sama diri sendiri, kira-kira apa yang salah
sama diri kita. Mungkin kita Cuma pinter
nyuruh anak berbuat ini dan itu tapi gak bisa jadi role model yang baik. –NAH!— itu poin utamanya. Temukan sebab
ketidakpantasan kita memperoleh sesuatu yang baik. Tiadalah mungkin Allah yang
Maha Bijak memberikan kita yang kurang bila kita pantas memperoleh yang lebih. Right?
So, Segera
temukan ketidakpantasan yang mengakibatkan kita ada di kondisi kurang baik.
Perbaiki kondisi sehingga kita pantas memperoleh yang lebih baik.
Menulis artikel ini bukanlah berarti saya adalah
orang yang free dari keluhan. Artikel
ini juga sebagai reminder saya untuk
terus berkaca, terus berusaha menekan diri dari keluhan yang tidak manfaat.
Mari sempurnakan hidup dengan sering bermuhasabah, temukan ketidakpantasan dan
segera perbaiki untuk kondisi yang lebih baik lagi.
Wallahu’alam..
:)
:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar