Rabu, 01 Januari 2014

Mereka yang Bersahaja

Mungkin, dalam ratusan ribu orang yang kutemui sepanjang hidup atau ribuan teman dalam sosial media, banyak orang-orang spesial yang begitu lekat pada kesan positif yang ku teladani. Tapi kali ini ijinkan Saya menuliskan kesederhanaan orang-orang *lebih tepatnya pasangan-pasangan* berikut ini, yang saya nilai begitu sederhana dalam berlelaku. Dan Saya meneladaninya.

Pasangan pertama adalah sosok bersahaja yang Saya temui di dunia maya. Kegemaran menulis, menghantarkan Saya pada wadah kepenulisan online yang ramai disesaki penulis-penulis di Februari 2012. Mulai dari yang amatir seperti Saya sampai “Suhu” seperti sosok yang satu ini. Akunnya bernama RZ. Hakim. Saya biasa menyapanya Mas Hakim. Tulisan-tulisan beliau sungguh sangat memikat. Gaya kepenulisannya yang khas, membuat Saya menanti-nantikan tulisan-tulisannya. Tak jarang, beliau menyempatkan membaca tulisan ecek-ecek Saya, bahkan mengomentarinya *suenenge rek, dikomentarin gurunya menulis :)*. Karena kemudian Saya vakum dalam menulis, Saya memilih berteman dengan beliau via sosial media. Dari sanalah Saya “mengikuti” kehidupan beliau. Menyimak penulisannya , baik via dinding sosmed atau pun pada “wadah” nya, www.acacicu.com *wajib kunjungi dan nikmati gaya menulisnya, guys :)*. Dan dari sana pula saya mengenal sosok manis nan bersaja pula. Bernama akun Zuhanna Priit Apikecil. Agak kepo, dengan kesahajaan mereka berdua yang selalu nampak pada postingan tulisan atau pun foto-foto, Saya pun mengenal Mbak Priit sebagai istri Mas Hakim. Cocok. Beneran cocok! Mereka sama-sama punya gaya kepenulisan yang aduhai. Rasa kesahajaan yang tak main-main. Sederhana terpancar dari keseharian yang tergambar pada halaman-halaman yang mereka sajikan. Sungguh, mereka adalah pasangan yang membuat Saya iri. Iri yang positif. Di mana pasangan yang nampak bersahaja ini bersinergi dalam nafas hidup yang sama. Beriringan dengan senandung alam dan kesederhanaan. Berirama dengan nada sosial yang menyempurnakan langkah pasangan ini dalam kesahajaan hidup yang damai. Belakangan juga Saya simak penulisannya dalam dunia blog www.apikecil.wordpress.com *kunjungi juga ya :)*.  Mereka benar-benar bersinergi dengan baik. Sangat kuat Saya rasakan kekuatan itu. Sangat positif.
Jauh direlung hati terdalam, Saya yang hanya menjadi Silent Reader dan Secreet Admirer mereka, ingin sekali menyapa. Ingin sekali berkawan. Ingin sekali bertukar kata. Ingin berjabat dalam damai itu. Sayang jarak membentang tak hingga. Hanya akhirnya, Saya beranikan memulai kata lewat sepotong perkenalan via pesan pribadi pada sosmed dengan Mbak Priit. Ya, beliau begitu ramah dan bersahaja. Tak meleset dari penilaian atas pengamatan Saya selama ini. Mbak Priit dan Mas Hakim yang begitu memukau Saya. Mereka yang bersahaja, seirama. Ah, sekali lagi Saya iri.
Teruslah menjadi permata-permata nan berkilau dalam pesona tak ternilai. Semoga kebahagiaan kalian bertambah dan terus bertambah. Dan kelak selalu dalam berkahNya.  Aamiin.

Mbak Priit dan Mas Hakim, dalam perahu hidup yang penuh kesahajaan
Pasangan berikutnya yang juga menyita kekaguman Saya adalah Mbak Agnes dan Suami, Mas Is. Yang pertama  Saya kenal lebih dulu adalah sosok cantik yang ketika itu datang bersama 2 malaikat kecilnya Jingga dan Ghaura. Mbak Agnes Purwanti. Pada sebuah kajian dalam komunitas sosial keagamaan yang Saya ikuti, Mbak Agnes hadir sebagai salah satu bagian dari keluarga besar komunitas kami. Yang menarik, ia bercerita tentang kehidupannya hingga akhirnya sampai pada titik yang sekarang ini. Yang menurutnya sudah sangat mendamaikan. Beliau pun sangat bersahaja. Sosoknya sederhana, tenang, teduh dan sabar. Di balik semua perjuangan hidupnya, Mbak Agnes hadir bagai pendaran cahaya bintang baru yang menyinari kami akan arti kesyukuran, arti kebersamaan. Sangat bersahaja dan hangat.
Hingga berteman dengannya lewat dunia maya menjadi nuansa baru dalam hidup. Tulisannya, kehangatannya dan kebersamaannya bersama keluarga kecilnya menjadi kekaguman yang sangat besar. Ia dan Suami yang selalu muncul hangat bersama anak-anak tak pernah terlihat jumawa. Sangat hangat. Sangat bersahaja. Meskipun sebenarnya mereka bisa melakukan hal-hal yang lebih dari ini semua. Mereka sangat bersahaja.
Belakangan Saya baru ngeh, kalau Sang Suami *Mas Is* merupakan seorang vokalis dari Band Indie yang besar dan tenar yang Saya koleksi juga beberapa karyanya. Dan mereka tetaplah hadir sebagai keluarga yang bersahaja. Keluarga yang hangat dan penuh cinta kasih. Dan mereka pun membuat Saya iri *sepertinya Saya kebanyakan iri. Tapi tak apa kan jika iri pada kebaikan? :)*

MbaK Agnes, Sang Suami, Jingga, Ghaura dan si tampan Pusakata. tak berlebihan kiranya jika Saya mengagumi kehangat dan kesajahaan keluarga ini.

Ya, itu adalah gambaran mereka-mereka yang Saya kenal begitu bersahaja, sedehana dan hangat. Padahal mereka bisa melakukan lebih dari yang saat ini mereka lakukan. Tapi mereka lebih memilih kesederhanaan dan hidup dalam kedamaian dengan senergi suami istri yang begitu positif. Akankah Saya menyusul dengan menjadi pasangan ketiga seperti mereka? Semoga :).

Langit Jingga
1 Januari 2014

8 komentar:

  1. aamiin Allahuma aamiin :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Allahumma Aamiin :)
      Suwun sudah mampir menyempatkan membaca :)

      Hapus
  2. mau album nya payung teduh dong,hehe

    BalasHapus
  3. Amin...
    dan yang lain berada di urutan selanjutnya dan selanjutnya..

    pasangan pertama saya sedikit banyak sudah tau Bu, tp kl yg kedua blm hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin....

      Subhanallah, memang Mas Hakim dan Mbak Priit itu ya...
      Sungguh pasti kedamaian selalu menyertai mereka... :)

      Pasangan yang kedua juga takkalah sahajanya Mas...

      Suwun sudah mampir membaca.. :)

      Hapus
  4. Akankah Saya menyusul dengan menjadi pasangan ketiga seperti mereka?

    Tentu saja dek, kau bisa jadi seperti mereka, Insya Allah niat baik akan diijabah.

    Saya kenalnya dengan pasangan yg pertama. Si Prit yang dengan mesranya memanggil saya Bulik, hingga mas Hakim dan teman blogger Jember juga memanggil saya seperti itu. Padahal saya masih sebaya dengan mereka loh ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Makasih doanya Bulik *bolehkah saya bermesra juga dengan memanggil bulik? :)* --Semoga berkenan--

      Senang sekali bisa mengenal mereka dan menghantarkan Saya mengenal selingkaran beliau-beliau yang sama positifnya, sama sederhananya.

      Suwun bulik, sudah menyempatkan membaca :)

      Hapus