Tahukah kalian apa mimpi Langit kecil? Sederhana sekali, ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik. Yang bangun tiap pagi untuk menyiapkan sarapan Abi *panggilan buat Adamku nanti, ekekekekek*, untuk pasukan kecil *anak-anak*, menyiapkan bekal makan siang untuk orang-orang terkasih. Masak camilan, merapikan rumah, memasak. Duhai mimpi indah yang membumbung tinggi. Lha, kamu mimpi gak mau jadi orang sukses? Kerja gitu? Itu sebagian besar pertanyaan yang meluncur, ketika rekan, kerabat tahu akan mimpiku. Mimpiku ya itu. Suksesku ya itu. Ibu Rumah Tangga yang baik. Kerja? Ya aku akan bekerja, tappi di rumah. Mengapa? Tak bosankah? Atau ini semua alibi malasmu untuk bekerja dan membantu suami kelak? *senyum saja, selow :)*
Mengapa Ibu Rumah Tangga? Karena aku mencintai benar orang-orang terkasihku. Aku ingin memastikan semua hal baik untuk mereka, dengan tanganku. Tanggung jawabku yang dipertanggungjawabkan di hari akhir.
Suami, aku ingin ia makan dari makanan yang ku racik. Dengan AsmaNya, dengan cinta kasih yang mengalir tiap suapan yang tersaji. Makanan yang memanjakan lidahnya sehingga menyenangkan hatinya. Meringkankan langkahnya dalam mencari nafkah dan melepas lelah ketika pulang. Bayangkan bila ia mengisi perutnya dari racikan orang lain. Ada cinta dalam suapnya? Ada doa dalam tiap makanan yang ia telan? Jawabannya belum tentu.
Aku ingin suamiku kelak rapi berpakaian, dengan shalawat yang tercurah tiap membasuh kemejanya. Ditiap bilas air yang mengucur. Ditiap gerak setrika yang meluncur menghaluskan per inchi kemejanya. Aku ingin, aku yang memadu padankan pakaian kerjanya ditiap pagi yang menjelang. Aku ingin ada cinta dan doa yang mengalir ditiap jengkal aku membantunya merapikan kemeja kerjanya. Dan kelak menjadi jaringan yang mempererat cinta kasih dalam jalanNya. Bukankah ini sangat indah? Dapatkan jalinan itu terjadi jika dikerjakan oleh tangan-tangan lain selain istri?
Rumah, aku ingin ia tersentuh oleh tatanan yang indah dipandang mata. Yang membahagiakan suami ketika ia pulang kerja. Rasa bahagia keluar mencari nafkah sehingga harta benda dapat dijaga istri dengan tatanan yang sedap bukan main. Ada pujian dan kesyukuran. Lagi-lagi ada cinta dan doa. Memanggil malaikat berkunjung dan menaungi dengan RahmanNya. Kalau saja aku, istri berada belasan jam di luar rumah, akankah istana kami tertata indah? Jawabannya mungkin saja bisa. Tapi tangan siapa? Adakah kepuasan bagi suami menatapnya? Adakah doa, kesyukuran dan aliran cinta di dalamnya? Lagi-lagi jawabannya belum tentu.
Hal paling krusial adalah Anak. Ya, buah hati. Sedari lahir, ia membutuhkan kehangatan bundanya, umanya, ibunya, uminya. Ia perlu dada yang hangat, yang memeluknya ketika sadar dari tidur dan menangis. Ia perlu shalawat, doa dan belai hangat pengantar tidur siangnya. Ia perlu air paling hebat untuk mengisi imunnya. Asi yang tak tergantikan dengan susu formula merek apapun, semahal apapun. Lalu ketika mereka mulai bertumbuh, aku ingin ia bisa mengeja AsmaNya bersamaku. Ia tumbuh dan berilmu dengan tuntunan bersamaku. Memulai akhlak baiknya, ilmunya bersama Bunda yang tak lepas mendoakan pertumbuhannya. Kasih sayang yang tak tergantikan. Efek psikologis yang membahagiakan. Bukankah kita perlu uang, kita harus bekerja guna masa depannya? Lagipula banyak penitipan anak yang cukup baik pengajarannya. Ya, kita harus memikirkan masa depannya. Tapi tabungan paling ampuh yang dirindukan setiap orang tua adalah tabungan akhirat. Siapa yang tak mau dianugerahi anaknya mahkota nan indah di akhirat kelak? Semata karena anaknya hafidz/hafidzah. Siapa yang bisa membimbing kalau bukan orang tuanya. Kalau keduanya sibuk di luar? Siapa yang bertanggung jawab? Dan tiadalah tangan paling mampu membimbingnya, kecuali dengan doa dan kasih sayang orang tuanya. Orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas semua buah hatinya.
Berkarir di rumah bukan hal mudah. Melawan letih, melawan bosan. Tapi ini adalah jenjang menuju surga dengan limpahan pahala. Berusaha memenuhi kewajiban sebagai istri *tentu melelahkan* ditambah mengelola sesuatu yang menghasilkan materi. Dengan niatan, doa dan kemantapan hati tidak ada yang tidak mungkin. Ada mimpi untuk dunia dan akhirat yang harus seimbang. Misalnya membuka lembaga bimbingan belajar di rumah, jasa catering, butik dan sebagainya. Dekat dengan anak, membahagiakan suami dan memperoleh materi. Indah bukan? :)
Ya, itu adalah mimpi terindah untuk saya. Karir terbaik sepanjang masa. Banyak ucapan bahwa ini adalah mimpi kosong. Tak semudah yang tertuliskan, terkatakan. Banyak hal sulit yang kelak dilalui. Intinya, tidak semudah itu. Tapi untukku, optimis adalah berfikir positif dan terus menjalani. Dan DIA adalah pegangan terbaik yang selalu memberi jalan untuk sebuah niatan baik. :)
Langit Jingga
17 Desember 2013

Sungguh mulia :)
BalasHapusAamiin...
BalasHapusDoakan semoga tercapai mimpinya ya, mas...
Btw, trims sudah menyempatkan mampir untuk baca... :)