Gambar Ilustrasi
“Sungguh
tiada kewajiban atas kamu untuk terus berharap sama aku, de. Aku masih seorang
Santri yang masih akan terus menekuni ilmu di sini. Menikah itu untuk saling
membahagiakan dan menenangkan kan? Kalau kamu merasa tidak tenang dan belum
bahagia sama aku, aku rela kamu lupain aku, jika itu adalah yang terbaik.”
Hujan
di luar masih membekaskan embun dingin yang memeluk kuat. Gemercik air masih
teratur menuruni ulir genting yang mendenting nada tersendiri. Hatiku masih
diselubung kacau, *Anak RT sebelah membacanya “GALAU” :)*. Ada segurat wajah
sendu milik Jendral *panggilanku untuk sang arjuna* terlintas dibenak. Ahhh,
Jendral, bagaimana mungkin semua ini terjadi. Aku harus bagaimana, Jend?
Drrrttttt.
Ponselku yang bergetar manis di atas mejaku. Sms. Ya Sms lagi dari lelaki lain.
Hhhh, Jend kamu tahu rasanya? Dilematis.
***
Aku masih terdiam menatap beku
langit-langit kamar . Ku lafadz istighfar
sambil menarik nafas dalam-dalam. Jend, aku mengenalmu bukan sehari dua
hari. Aku meniti mimpi menyempunakan separuh agamaku bersamamu. Entah, dirimu
lelah atau tidak menjawab tanyaku kapan kita bisa halal berpandangan?
“Sabar ya de, Aku berusaha untuk
itu. Ade jangan lupa sholat, minta sama Allah yang terbaik. Insya Allah pasti akan ada jawabannya.”
Seperti biasa jawabanmu menenangkanku, meski tak mengurangi hasratku
mendampingimu.
***
Nyaris
setahun setelah keputusanmu mondok,
kita kembali dihadapkan pada sendunya rindu tak saling menyapa. Hanya
sepenggal-penggal pesan singkat yang mampir. Mengabarkan usahamu menghafal ayat
demi ayat Sang Pemilik Semesta. Tapi bukan di sana poinnya. Aku masih menunggu.
Tentu aku ingin halal memikirkanmu. Tak apalah kau halalkan aku dan kembali
menimba ilmu jauh dariku, Insya Allah
aku ikhlas, Jend. Berikan aku kepastian.
Hingga satu masa di kala diri ini
tengah berpasrah akan Takdir baikNYA, aku menjalin silaturahim dengan sosok
sabar itu. Dialah Kang Abi. Bukan Jend, bukan aku hendak mencari penggantimu.
Aku hanya ingin mengorek informasi tentang pendidikan Pasca sarjana ku. Hanya
itu saat itu. Tapi ternyata ia bermaksud lain. Ia tertarik padaku Jend. Pesan
singkatnya yang semula berisi informasi Pasca Sarjana, kini nyaris menyiratkan
hasratnya meng-khitbah ku. Illahi Rabbi, tentu tak ada yang salah
pada rasanya. Jujur aku pun mengaguminya. Agamanya, jauh lebih tinggi dari aku.
Tapi aku masih menunggumu, Jend. Aku menyampaikan hal itu padanya dengan harap
ia mampu memahami dan beringsut mencari sosok lain selain aku. Tapi dugaanku
salah. Ia tetap menungguku, Jend. Ia yakin, akulah jodohnya. Salahkah aku,
Jend?
Rabb,
apa ini jawabanMu atas doa-doaku? Is He not the right one for me? Atau semua
sebatas cobaan untuk hubungan kami? Tapi hingga detik ini pun kau tak mampu
berucap, kapan hendak meminangku. Padahal itu yang aku tunggu. AKU MENANTI PINANGANMU.
Airmataku jatuh di atas sajadah,
malam itu. Kupanjatkan lagi, doa yang sama. Berharap tanya itu gamblang
terjawab. Ustadz Abi, sekilas lewat menggurat perih di hati. Rabb, bahkan aku belum menatapnya
langsung, tapi rasa ini begitu dilematis. Jahatkah aku yang kini telah merasa
sebegitu asing dengan Jendral, memintanya untuk belajar saling melupakan demi
RidhoNya? Jend, aku paham kau sedang susah payah meneguhkan hati demi menyelami
ilmuNYA, tapi maaf, sungguh hati ini semakin bimbang setelah sikapmu pun ikut
berubah menjauh, seperti bersalah tak mampu segera meminangku. Jendral, Ustadz,
beri aku ruang demi mengikuti Petunjuk Sang Pemilik Segala.
Drrttt…
Si imut kembali bergetar membuyar tangis dan hening yang ku resapi. Jendral?
Pesan singkat ini darimu Jend? Alhamdulillah,
desisku mengurai senyum dan menjangkau ponselku. Ku baca perlahan bait demi
bait pesanmu, aku terdiam, mematung.
“Sungguh
tiada kewajiban atas kamu untuk terus berharap sama aku, de. Aku masih seorang
Santri yang masih akan terus menekuni ilmu di sini. Menikah itu untuk saling
membahagiakan dan menenangkan kan? Kalau kamu merasa tidak tenang dan belum
bahagia sama aku, aku rela kamu lupain aku, jika itu adalah yang terbaik.”
14
Februari 2012, Untuk Seorang Sahabat –Kucukupkan
Penantian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar