Senin, 16 Desember 2013

Si Ganteng Kesayangan

Dan produkMu tiada yang pernah gagal

2 September 2013, Senin pagi awal pertemuan dengan sang pangeran kecil, si ganteng kesayangan. Demikian aku menyapanya. Anak laki-laki berkulit putih berperawakan segar dan besar ini amat pantas ku sapa si ganteng. Betapa tidak, kulitnya sangat putih, bersih. Matanya bening berwarna kecoklatan. Rambutnya pirang kecoklatan pula. Bayangkan, tampannya anak ini. 

Datang dengan segenap mimpi menjadi seorang pengajar, mengantarkan ku pada perjalanan menjadi seorang shadow teacher anak berkebutuhan khusus. Ya, si ganteng kesayangan adalah salah seorang anak berkebutuhan khusus pada tingkat 2 sekolah dasar di yayasan berbasis character building ini. Awal wawancara, Bu Kepsek menginfokan si ganteng ini memang abk, namun bukan autis dan sejenisnya. Hanya membutuhkan pendampingan ekstra dalam belajar.

Di usianya yang ke 4, si ganteng mengalami kejang hebat. Saat itu belum diketahui sabab musababnya. Jelaslah orang tuanya bingung bukan main. Terlebih mengenai efek yang terjadi. Menurut dokter, IQ nya menurun 4 poin di tiap kejang yang terjadi. Masya Allah, tak terbayang anak tampan ini menanggung sakit sedemikian rupa. Obat-obatan pun diminum sebagai antisipasi kesehatannya. Si ganteng pun dapat kembali beraktifitas dengan hari baru, yang sedikit berbeda.

Usianya yang menginjak 5 tahun, ia barulah bisa banyak bicara. Meski tak selancar adik manisnya yang 1 tahun di bawahnya. Justru dari adiknya lah, si ganteng banyak mengenal kosakata. Ia mulai berinteraksi, mulai berkomunikasi, meski tak terlampau banyak. Dan si ganteng kesayangan pun beraktifitas belajar seperti layaknya anka-anak lain. TK, SD 1 dilalui dengan riangnya, sebagai anak-anak.

Hingga memasuki usia 8 tahun di medium 2013, ketika hendak masuk sekolah seperti biasa, si ganteng kesayangan kembali mengalami kejang di mobil jemputan. Kekhawatiran pun merasuk pada orang tua, keluarga si ganteng. Segenap usaha dilakukan demi kesembuhan sang pangeran kecil. Rangkaian demi rangkaian tes dilakukan guna memperoleh keterangan apa sebenarnya yang terjadi. Dan hasil merujuk pada adanya gangguan pada bagian kepala sang pangeran kecil *jenis dan detail penyakit tidak disertakan, karena sumber hanya menceritakan garis besar kondisi*. Dan kejang ini terpicu dengan penyebab kedinginan, kepananasan dan emosi yang memuncak. It’s very complicated, right? Tapi itulah takdir. Tanpa dapat kita pilih. Sejak hari itu, si ganteng pun kerap mengkonsumsi suplemen otak guna menunjang kondisinya. Ia kembali beraktifitas, dengan hari baru, dengan kondisi yang baru.

Si ganteng melalui hari dengan kendala linguistiknya. Keterbatasan kosa kata membuatnya lebih banyak diam. Menyerap pelajaran pun maksimal dilakukan jika gambaran visual disertakan. Membaca dan menulisnya menjadi terbata. Dan yang menjadi problema, hal ini mempengaruhi sikapnya. Kerap kali ia mencomot dengan santainya makanan milik temannya. Tak hanya itu, kadang mainan dan sebagainya tak luput dari comot-annya. Bukan, bukan karena ia mau mencuri. Bukan karena ia klepto *seperti yang sering dituduhkan sebelumnya*. Ia hanya belum mengerti, apa yang harus ia ungkapkan, apa yang harus ia katakan, ketika ia menginginkan sesuatu. Terbukti ketika saya sebagai guru pendampingnya mengajaknya berbincang, tentang musabab ia mengambil barang milik temannya. Dengan sedih, saya menanyakan mengapa ia mengambil barang tersebut? Ia hanya menatap kosong. Mengangkat bahu sambil menerawang dengan polosnya. Ah, sedih sekali. Kala itu rasanya saya seperti gagal. Tak berhasil membimbingnya. Kemudian saya mengajaknya bicara. Bahwa jika ia menginginkan hal tersebut, bicaralah. Entah kepada mama, papa atau pada saya sebagai orang terdekatnya di sekolah. Dia hanya diam. Sepertinya belum mengerti hingga akhirnya, aku memvisualkan dan mengajarinya, bagaimana caranya meminta, bukan asal comot.

“Nak, kalau kamu mau kue dari Bu Putri misalnya, jangan langsung ambil. Tapi meminta ijin terlebih dahulu ya. Seperti ini misalnya, Bu, Aku mau kuenya. Boleh gak?” hal ini aku saya sampaikan dengan visual gerakan. Misalnya ketika dia mengatakan ”Bu”, tanganku mengamit tangannya menunjukku. Ketika ia menyebut namanya, ku tuntun tangannya menunjuk dirinya. Dan begitu seterusnya.

Ia nampak memahami teori sosial yang ku arahkan. Keesokkannya ketika ia menghendaki sesuatu, Subhanallah sekali, ia mempraktekkan apa yang ku bimbing. Dan lucunya, disertai gerakan, persis seperti yang ku bimbing. Lucu nian. Tapi apapun dan bagaimanpun sedikit banyaknya berhasil merubah polanya menjadi lebih baik. Tak lagi ada tuduhan ngambil seperti sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah..

Tak hanya itu, secara sosial, ia kurang mampu berbaur. Bukan lagi karena hal lain, melainkan keterbatasan komunikasi. Ia bingung, mesti berkata apa. Kalau mau begini bicara apa, kalau mau begitu harus bicara apa. Itulah si ganteng kesayangan. Kadang caranya inilah yang menjadi masalah dalam berinteraksi. Dulu, ia gemar jahil pada rekannya. Hal tersebut sebenarnya tidak dilandasi karena akhlaknya, melainnya caranya untuk mengajak main temannya. Inilah dia. Cara komunikasinya unik. Berbeda. Dan tugasku untuk meluruskan. Mengajarinya berkomunikasi, bersosial.

Si ganteng kesayangan pun berangsur berubah lebih baik di tiap harinya. Kemampuan komunikasinya lebih baik. Ia mampu bercerita lebih banyak dari biasanya. Ia bahkan hampir tidak pernah lagi mencomot makanan atau barang milik temannya. Ia kini lebih tenang. Si ganteng kesayangan dengan segenap kelebihan dan kekurangannya adalah bias-bias pelangi dalam dunia mengajar yang tak pernah bisa ku lupa. Ia yang selalu mengajariku arti kesabaran. Ia yang membuka mataku, akan keberadaan produkNya yang selalu sempurna. Manusia adalah makhlukNya yang paling sempurna. Mengutip perkataan Pak Munif Chatib, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. Termasuk kamu, malaikat kecilku, Si Ganteng Kesayangan.

Langit Jingga,
16 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar