Rabu, 01 Januari 2014

Putu Mayang, Sepotong Memori Tengah Pasar

Seperti janji Saya yang lalu mengenai mengurai cerita kue basah yang satu ini, maka sekarang Saya akan mencoba menunaikannya.
Putu Mayang. Ya Kue Putu Mayang. Kue basah berbahan dasar tepung beras dengan sajian gurih manis kuah gulanya. Rasanya lezat sekali. Menjadi istimewa karena berjubel kenangan masa kecil menghampur manis semanis tiap suap kue kriwil ini.
Dulu, ketika menjejak di sekolah dasar, kerap kali Saya turut Ibu ke pasar. Si Ibu yang seorang ibu rumah tangga nan ulet, memang terhitung jarang ke pasar. Alasannya, sayang ongkosnya, lebih baik dihemat. Toh warung dekat rumah cukup banyak dan lengkap. Kecuali, ada keperluan yang tak dapat ditemui di warung, barulah Si Ibu bergegas menaiki angkot dan menuju pasar tradisional yang berjarak sekitar 2km dari rumah.
Dan disanalah letak istimewanya. Saya yang tergolong aktif, senang sekali jika diajak keluar rumah. Walaupun sekedar ke pasar. Walaupun tak ada mainan dan sejenisnya yang memanjakan layaknya anak-anak jaman sekarang. Saya cukup senang dengan naik angkot dan memperhatikan ini itu sepanjang jalan. Melihat jalanan dan warna-warninya. Memperhatikan seisi pasar dan hiruk pikuknya. Menyimak Si Ibu riuh tawar menawar dari satu tempat ke tempat lain. Ah, Ibu memang jagoan. Hebat nian. Semua demi keluarga :) *cups*.
Dan bagian-bagian lain yang tak tertinggal adalah, seusai berbelanja, Ibu selalu menghentikan langkah di salah satu toko kue basah tengah pasar. Ibu biasa menyapanya Enci  *sapaan untuk perempuan beretnis cina*. Ia selalu menyuruhku memilih penganan mana yang Saya inginkan. Selalu. Dan selalu ku tunjuk si kriwil 3 warna, merah, putih, hijau berkuah gula dan santan, Putu Mayang. 2 bungkus selalu menjadi kudapan untukku dan kakak yang menanti sepulang sekolah. Dan semua selalu bergulir begitu. Meski tak seminggu sekali, tapi justru memori indah itu menjadi momen yang dinanti-nanti. Kapan ke pasar lagi? :)
Kadang ritual belanja ke pasar diakhiri dengan semangkuk soto mie yang lebih banyak ku santap risolnya saja dan menyisakan sejumlah sayuran lainnya. Tak hanya itu, jika beruntung seplastik es dawet khas gula jawa asli jadi tentengan menggembirakan setelah lelah memutar-mutar pasar.

Putu Mayang dengan jutaan memori manisyang menyertainya

Kini, agak sulit menemukan si kriwil Putu Mayang. Terlebih, pasar tradisionalku yang meninggalkan segudang memori pun telah digubah. Kini hancur dan dibangun yang baru dengan konsep –yang katanya– modern.  Namun,  memori indah yang mengiringinya tetap selalu mudah ditemui di sudut hati.
Memori yang mungkin anak jaman sekarang tidak menemuinya. Kegembiraan masa kecil yang begitu sederhana namun mengajari banyak hal. Dari mengekor Ibu ke pasar, Saya tahu bagaimana menawar dengan cara yang baik tentunya. Dari sana Saya belajar kehidupan dengan sejuta anekdot nya.
Putu Mayang, menggigitmu selalu menghadirkan kemanisan memori yang tak lekang meski kini kau sulit lagi ku temui. Kuharap, hadirlah kembali. Setidaknya mampu memberi kemanisan untuk generasi kini. Agar tak lagi memuja-muji penganan luar yang menimbun banyak masalah di belakangnya. Dan menemukanmu siang kemarin, sungguh bak mendapat undian. Senang betul. Dan memori pun kembali mengudara di benak. Memori tengah pasar.

Langit Jingga
1 Desember 2014

2 komentar: