Jumat, 27 Maret 2015

Bingkisan Indah tanpa Kertas Kado

Jumat petang selepas maghrib aku asyik berdiam di kamar, menikmati gemericik hujan ringan sembari chit-chat di social media. Mataku tertuju pada Display Picture Cici legit yang memampang Panda dalam pesawat. Aaaaaaaa, suka sekali aku dengan Panda. Gemesin banget kan ya? Hehe… Lalu, obrolan singkat pun mengalir. Mulai dari Panda, Teddy bear sampai bermuara ke Tare Panda. Apa itu Tare Panda? Jenis boneka panda jepang. Aku nyebutnya Panda Gepeng. Karena memang bentuknya adalah panda yang sedang rebahan malas. My fav Doll!!!! Kenapa? Aku banget soalnya. Hehehe…



Sejenak pandangku jadi tertuju pada 2 boneka atau bantal Tare Panda di tepian tempat tidur. Usianya sudah udzur. Sedari sd kelas 5 sudah jadi milikku. Dari Bapak. Ceritanya cukup mellow, kenapa akhirnya aku punya Tare Panda itu. Sebuah kado kesepian.
Sekitar kelas 4 SD ibu memutuskan untuk kembali bekerja. Karena menilaiku si bungsu sudah cukup besar dan bisa ditinggal. Awalnya semua berlangsung biasa saja. Sampai aku merasa ada yang kurang. Ada yang hilang. Sepulang sekolah aku membuka pintu sendiri, menyiapkan makan sendiri, mandi sendiri bahkan pernah berbicara sendiri. Mengomentari acara televisi lebih tepatnya. Kontrakan kami yang ada di jalan buntu menambah lengkap hening yang mengalir dari waktu ke waktu. Kakak sudah SMP waktu itu. Ia masuk siang dan tiba di rumah lepas maghrib, hampir berdekatan dengan waktu ibu pulang. Bapak? Bapak adalah lelaki tangguh. Yang jarang sekali aku temui di rumah. Ia berangkat sedari subuh. Pulang bisa nyaris dini hari. Bahkan minggu kadang diakrabinya untuk lembur. Sedang aku mulai mengakrabi sepi.
Hingga suatu hari, Bapak mulai sadar, aku kerap menangis. Aku sepi. Suatu siang, Bapak mengajakku ke suatu Toserba yang cukup masyur jaman itu. Memintaku memilih apa yang aku mau. Dan dia. Ya dia . Tare Panda ukuran sedang yang kupilih. Ukuran yang sekiranya dapat kupeluk. Teman, kado, bingkisan penawar sepi sendiri.
Dan lamunan masa lalu itu buyar, ketika Cici kembali bertanya, mengapa aku sedemikian berani pada boneka. Bahkan dari kecil. Ya dari kecil. Saat usia 3 tahun dulu. Kado pertama dari Bapak adalah boneka Susan yang tenar pada masa itu, seukuran ku di usia 3 tahun. Aku takut? Tidak. Dikala kebanyakan anak menangis karena takut, aku menikmati masa itu. Masa di mana Bapak jarang bersama kami. Karena kesibukannya di balik kemudi.
Ya, aku mengerti sekarang. Mengapa Allah bingkis runutan takdir ‘secantik’ ini. Aku hanya berujar pada Cici,Ci, dari dulu aku tak punya banyak waktu menemui punggung untuk bersembunyi dari takut dan berlindung. Dan aku berusaha menyelesaikan semua sendiri. Dan ternyata itu yang mengajarkan aku kuat dengan segala hantaman saat ini.”
Berlebihankah? Terserah. Tapi itu yang aku rasa. Hikmah terbesar dari rajutan sepi yang bergelayut sedari dulu.

Hadiah terindah kadang tidak selalu terbungkus rapi bukan?

Dalam Kamar Selepas Hujan, Akhir Maret 2015
Langit Jingga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar