Jumat petang selepas maghrib aku asyik berdiam di kamar,
menikmati gemericik hujan ringan sembari chit-chat
di social media. Mataku tertuju pada Display
Picture Cici legit yang memampang
Panda dalam pesawat. Aaaaaaaa, suka sekali aku dengan Panda. Gemesin banget kan
ya? Hehe… Lalu, obrolan singkat pun mengalir. Mulai dari Panda, Teddy bear
sampai bermuara ke Tare Panda. Apa itu Tare Panda? Jenis boneka panda jepang.
Aku nyebutnya Panda Gepeng. Karena
memang bentuknya adalah panda yang sedang rebahan malas. My fav Doll!!!!
Kenapa? Aku banget soalnya. Hehehe…
Sejenak pandangku jadi tertuju pada 2 boneka atau bantal
Tare Panda di tepian tempat tidur. Usianya sudah udzur. Sedari sd kelas 5 sudah
jadi milikku. Dari Bapak. Ceritanya cukup mellow, kenapa akhirnya aku punya
Tare Panda itu. Sebuah kado kesepian.
Sekitar kelas 4 SD ibu memutuskan untuk kembali bekerja.
Karena menilaiku si bungsu sudah cukup besar dan bisa ditinggal. Awalnya semua
berlangsung biasa saja. Sampai aku merasa ada yang kurang. Ada yang hilang.
Sepulang sekolah aku membuka pintu sendiri, menyiapkan makan sendiri, mandi
sendiri bahkan pernah berbicara sendiri. Mengomentari acara televisi lebih
tepatnya. Kontrakan kami yang ada di jalan buntu menambah lengkap hening yang
mengalir dari waktu ke waktu. Kakak sudah SMP waktu itu. Ia masuk siang dan
tiba di rumah lepas maghrib, hampir berdekatan dengan waktu ibu pulang. Bapak?
Bapak adalah lelaki tangguh. Yang jarang sekali aku temui di rumah. Ia
berangkat sedari subuh. Pulang bisa nyaris dini hari. Bahkan minggu kadang
diakrabinya untuk lembur. Sedang aku mulai mengakrabi sepi.
Hingga suatu hari, Bapak mulai sadar, aku kerap menangis.
Aku sepi. Suatu siang, Bapak mengajakku ke suatu Toserba yang cukup masyur
jaman itu. Memintaku memilih apa yang aku mau. Dan dia. Ya dia . Tare Panda
ukuran sedang yang kupilih. Ukuran yang sekiranya dapat kupeluk. Teman, kado,
bingkisan penawar sepi sendiri.
Dan lamunan masa lalu itu buyar, ketika Cici kembali bertanya, mengapa aku
sedemikian berani pada boneka. Bahkan dari kecil. Ya dari kecil. Saat usia 3
tahun dulu. Kado pertama dari Bapak adalah boneka Susan yang tenar pada masa itu, seukuran ku di usia 3 tahun. Aku
takut? Tidak. Dikala kebanyakan anak menangis karena takut, aku menikmati masa
itu. Masa di mana Bapak jarang bersama kami. Karena kesibukannya di balik
kemudi.
Ya, aku mengerti sekarang. Mengapa Allah bingkis runutan
takdir ‘secantik’ ini. Aku hanya berujar pada Cici, “Ci, dari dulu aku
tak punya banyak waktu menemui punggung untuk bersembunyi dari takut dan
berlindung. Dan aku berusaha menyelesaikan semua sendiri. Dan ternyata itu yang
mengajarkan aku kuat dengan segala hantaman saat ini.”
Berlebihankah? Terserah. Tapi itu yang aku rasa. Hikmah terbesar
dari rajutan sepi yang bergelayut sedari dulu.
Hadiah terindah kadang tidak selalu terbungkus rapi
bukan?
Dalam Kamar Selepas Hujan, Akhir Maret 2015
Langit Jingga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar