Kamis, 06 September 2012

Autis, Bidadari Surgawi dan Malaikat Kecilnya


Gambar Ilustrasi : Kasih sayang bunda pada si buah hati

”Enam tahun, mbak. Tapi dia autis” jawab sang bunda gamblang tanpa malu atau mencoba menutupi.

Jakarta, 14 Juli 2011
Autis. Sebelumya aku hanya mengenal kata itu lewat artikel, berita atau bahkan infotaiment yang sekilas lewat di cover tabloid dalam genggaman penjaja koran lampu merah. Tak banyak yang kupahami, yang ku tahu mereka punya dunia sendiri. Mereka sibuk sendiri, tak hirau ada kami di sekelilingnya. Namun dipagi cerah yang lamat-lamat masih sesekali ku isi dengan menguap, sudah kutemui sosok kecil nan pecicilan duduk di sampingku. Awalnya aku masih menyandarkan kepala di jendela bus ac yang bergerak perlahan menuju kantor.  Sesaat bus berhenti. Ada ibu berjilbab menggandeng  putra kecilnya menjajaki tangga bus satu per satu. Moment sesaat mengamati arti kesabaran dan kemuliaan seorang bunda pun dimulai.
Hanya ada satu bangku, di sebelahku. Ia membimbing sang putra duduk. Ya, hanya putranya dan ia berdiri di sisinya sambil tak lepas menggenggam jemari mungil sang arjuna kecil. Tapi putranya masih saja berjingkatan sambil senyum-senyum dan berkata-kata tak jelas dengan tatapan yang tak berfokus pada satu titik, tak menyegerakan dirinya untuk duduk dan nikmati perjalanan pagi ini.
”Hmm, wajarlah anak laki-laki memang sedikit agak nakal” fikirku.
Dan aku pun kembali melenakan diri menikmati jalanan pagi yang cukup lancar dengan sesekali membuang pandangan keluar jendela. Menyisir tiap jengkal aspal jalan tol yang mulai panas berasap. Tapi tiba-tiba saja aku tersentak ketika ada yang menyandarkan kepala ke lenganku. Terasa rambut nan halus mengusap-usap lembut. Ya, sang pangeran kecil itu sedang asyik bersandar di lenganku.
”Adek, jangan gitu.” sang bunda mengingatkan tanpa nada membentak sedikitpun.
Aku hanya menoleh sambil melempar senyum kecil untuk mereka. Aku hanya berfikir, mungkin ia nyaman menikmati perjalanan sambil bersandar manja di lenganku.
”Ya hitung-hitung belajar menjadi bunda yang baik dan nyaman untuk anakku nanti.” ujarku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri membayangkan entah kapan aku punya buah hati, menikah pun belum :)
Tak berapa lama, sang anak kembali mengaitkan lengannya ke tubuhku, nyaris memeluk manja dengan ekspresi sama. Senyum-senyum, berujar tak jelas dan menatap tanpa fokus. Seketika aku kaget.
”Adek itu bukan bunda, jangan begitu.” kembali sang bunda berujar seraya menarik lembut jemari mungil sang buah hati.
”Maaf ya mbak, biasanya dia ngusel-ngusel kalau mau tidur.” sambung sang bunda seolah ingin menjawab senyum dan tatapanku padanya.
”Iya bu, gak apa-apa. Umur berapa bu?” balas ku sambil mengusap pipi si kecil yang nampak putih merona itu.
”Enam tahun, mbak. Tapi dia autis” jawab sang bunda gamblang tanpa malu atau mencoba menutupi.
Subhanallah........ Kau bingkis hati seorang bunda sedemikian sabar dan kuat tanpa ada keluh, malu atau pun rasa risih menghadapi cobaanMu, Rabb. Aku terkesiap namun tak kutunjukkan rasaku, tak ingin ia tersinggung. Putranya memang tidak penah bisa diam. Ada saja yang ia lakukan, ada saja yang ia tunjukkan. Tapi Maha Suci Engkau Ya Allah, tak ada raut kekesalan di wajah teduh milik sang bunda. Tak ada ucapan meninggi untuk membatasi gerak lincah sang buah hati. Tak ada rona malu dan kikuk mengakui kondisi pangeran kecilnya yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan.
Masih sempat ia menyuapi sang putra di kendaraan yang melaju perlahan setelah keluar dari tol. Masih dengan segenap rasa cintanya. Masih dengan kesabarannya.

Jakarta, 20 Juli 2011
            Belum genap seminggu peristiwa itu terjadi, aku kembali dipertemukan dengan sosok nan sabar itu. Lagi-lagi di bangku yang sama (karena bangku itu jadi tempat favorit ku :) ). Sekeliling bangku sudah penuh, tak menyisakan satu pun bangku kosong. Aku tunggu reaksi sekeliling, adakah yang bergerak? Ah ternyata nihil. Aku colek lengan sang bunda dan melempar senyum sambil memberi kode untuk bertukar tempat denganku. Ku persilahkan ia dan putra kecilnya duduk. Sumringah ia terima tawaranku. Senyumnya melengkung manis menghias wajahnya *yang memang sudah manis :)*. Lagi, kuamati lewat ekor mataku *tak etis rasanya terus mengamati dengan bola mata yang jelas mengarah padanya*, tingkah polah sang malaikat kecil dalam pangkuan sang bunda. Masih saja kesabaran itu ku temukan, tak ada amarah yang kian menjadi meski di tengah macet yang menggila, sang malaikat meracau tak tentu hingga hampir semua penumpang yang masih terjaga *karena mayoritas pengguna bus, tertidur dalam perjalanan menuju kantor*. Semua terus bergulir hingga tiba saatnya aku turun lebih dulu. Meninggalkan arti kesabaran berlalu seiring bus yang melaju menjauh dari pandang.

Semua berjalan hingga kini nyaris setahun moment itu ku lewati. Hampir setiap hari aku seperti menanti-nanti ada Bidadari Surgawi dan Malaikat kecilnya singgah di bus pagi dan ”mengajariku” arti kesabaran yang Maha Dahsyatnya.
Catatan Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar