”Enam tahun, mbak. Tapi dia autis” jawab sang bunda gamblang tanpa malu
atau mencoba menutupi.
Jakarta, 14 Juli
2011
Autis. Sebelumya aku hanya mengenal kata itu lewat artikel, berita atau
bahkan infotaiment yang sekilas lewat di cover tabloid dalam genggaman penjaja
koran lampu merah. Tak banyak yang kupahami, yang ku tahu mereka punya dunia
sendiri. Mereka sibuk sendiri, tak hirau ada kami di sekelilingnya. Namun
dipagi cerah yang lamat-lamat masih sesekali ku isi dengan menguap, sudah kutemui
sosok kecil nan pecicilan duduk di
sampingku. Awalnya aku masih menyandarkan kepala di jendela bus ac yang bergerak perlahan menuju kantor.
Sesaat bus berhenti. Ada ibu berjilbab
menggandeng putra kecilnya menjajaki
tangga bus satu per satu. Moment sesaat mengamati arti kesabaran dan kemuliaan
seorang bunda pun dimulai.
Hanya ada satu bangku, di sebelahku. Ia membimbing sang putra duduk. Ya,
hanya putranya dan ia berdiri di sisinya sambil tak lepas menggenggam jemari
mungil sang arjuna kecil. Tapi putranya masih saja berjingkatan sambil
senyum-senyum dan berkata-kata tak jelas dengan tatapan yang tak berfokus pada
satu titik, tak menyegerakan dirinya untuk duduk dan nikmati perjalanan pagi
ini.
”Hmm, wajarlah anak laki-laki memang sedikit agak nakal” fikirku.
Dan aku pun kembali melenakan diri menikmati jalanan pagi yang cukup lancar
dengan sesekali membuang pandangan keluar jendela. Menyisir tiap jengkal aspal
jalan tol yang mulai panas berasap. Tapi tiba-tiba saja aku tersentak ketika
ada yang menyandarkan kepala ke lenganku. Terasa rambut nan halus mengusap-usap
lembut. Ya, sang pangeran kecil itu sedang asyik bersandar di lenganku.
”Adek, jangan gitu.” sang bunda mengingatkan tanpa nada membentak
sedikitpun.
Aku hanya menoleh sambil melempar senyum kecil untuk mereka. Aku hanya
berfikir, mungkin ia nyaman menikmati perjalanan sambil bersandar manja di
lenganku.
”Ya hitung-hitung belajar menjadi bunda yang baik dan nyaman untuk anakku
nanti.” ujarku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri membayangkan entah kapan
aku punya buah hati, menikah pun belum :).
Tak berapa lama, sang anak kembali mengaitkan lengannya ke tubuhku, nyaris
memeluk manja dengan ekspresi sama. Senyum-senyum, berujar tak jelas dan
menatap tanpa fokus. Seketika aku kaget.
”Adek itu bukan bunda, jangan begitu.” kembali sang bunda berujar seraya
menarik lembut jemari mungil sang buah hati.
”Maaf ya mbak, biasanya dia ngusel-ngusel
kalau mau tidur.” sambung sang bunda seolah ingin menjawab senyum dan tatapanku
padanya.
”Iya bu, gak apa-apa. Umur berapa bu?” balas ku sambil mengusap pipi si
kecil yang nampak putih merona itu.
”Enam tahun, mbak. Tapi dia autis” jawab sang bunda gamblang tanpa malu
atau mencoba menutupi.
Subhanallah........ Kau
bingkis hati seorang bunda sedemikian sabar dan kuat tanpa ada keluh, malu atau
pun rasa risih menghadapi cobaanMu, Rabb.
Aku terkesiap namun tak kutunjukkan rasaku, tak ingin ia tersinggung. Putranya
memang tidak penah bisa diam. Ada saja yang ia lakukan, ada saja yang ia tunjukkan. Tapi
Maha Suci Engkau Ya Allah, tak ada raut kekesalan di wajah teduh milik sang
bunda. Tak ada ucapan meninggi untuk membatasi gerak lincah sang buah hati. Tak
ada rona malu dan kikuk mengakui kondisi pangeran kecilnya yang berbeda dengan anak-anak
kebanyakan.
Masih sempat ia menyuapi sang putra di kendaraan yang melaju perlahan
setelah keluar dari tol. Masih dengan segenap rasa cintanya. Masih dengan
kesabarannya.
Jakarta, 20 Juli
2011
Belum genap seminggu peristiwa itu
terjadi, aku kembali dipertemukan dengan sosok nan sabar itu. Lagi-lagi di
bangku yang sama (karena bangku itu jadi tempat favorit ku :) ). Sekeliling bangku sudah penuh, tak menyisakan satu pun
bangku kosong. Aku tunggu reaksi sekeliling, adakah yang bergerak? Ah ternyata
nihil. Aku colek lengan sang bunda dan melempar senyum sambil memberi kode
untuk bertukar tempat denganku. Ku persilahkan ia dan putra kecilnya duduk.
Sumringah ia terima tawaranku. Senyumnya melengkung manis menghias wajahnya
*yang memang sudah manis :)*. Lagi,
kuamati lewat ekor mataku *tak etis rasanya terus mengamati dengan bola mata
yang jelas mengarah padanya*, tingkah polah sang malaikat kecil dalam pangkuan
sang bunda. Masih saja kesabaran itu ku temukan, tak ada amarah yang kian
menjadi meski di tengah macet yang menggila, sang malaikat meracau tak tentu
hingga hampir semua penumpang yang masih terjaga *karena mayoritas pengguna
bus, tertidur dalam perjalanan menuju kantor*. Semua terus bergulir hingga tiba
saatnya aku turun lebih dulu. Meninggalkan arti kesabaran berlalu seiring bus
yang melaju menjauh dari pandang.
Semua berjalan hingga kini nyaris setahun moment itu ku lewati. Hampir
setiap hari aku seperti menanti-nanti ada Bidadari
Surgawi dan Malaikat kecilnya
singgah di bus pagi dan ”mengajariku” arti kesabaran yang Maha Dahsyatnya.
Catatan Februari 2012
Catatan Februari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar