”Kalo masuk penjara kan enak, Mak. Bisa makan gratis. Bisa makan daging,
makan enak-enak deh. Gak susah-susah cari makan.”
Menjelang sore di salah
satu angkutan kota
yang tak begitu penuh penumpang. Aku tak ingat betul kapan kejadian itu berlangsung. Kurang
lebih medium tahun 2010, menuju stasiun Bogor.
Aku dan rekan kuliahku menaiki salah satu angkutan kota berwana hijau cerah
menuju arah Bogor, saat siang mulai meredup. Bukan hanya kami. Ada seorang
gadis belia di pojok angkutan yang asyik dengan ponselnya. Dan kemudian, tap. Mataku beradu temu dengan beberapa
pasang bola mata lugu yang sinarnya nyaris redup. Beberapa anak kecil yang
(maaf) terlihat kumal dan lusuh berada tak jauh dari jangkauan ibunya. Ibu muda
yang kuperkirakan usianya sekitar 30 – an itu menggendong anak bungsunya yang
belum genap 3 tahun. Di sisi kanannya sepertinya merupakan anak kedua dan
ketiganya yang jika diperkirakan usia mereka satu sama lain hanya berselang 1
tahun. Dan di sisi kiri sang ibu ada si sulung yang belum genap 10 tahun.
Mereka ramai bercuap-cuap masing-masing. Ada yang berkomentar tentang jalanan,
mobil, pepohonan sedang sang ibu hanya menjawab datar dan seadanya atas
limpahan tanya sang buah hati. Hingga salah satu percakapan antara anak ketiga
dan sang ibu membuatku terdiam, menangis dalam hati.
”Mak, masuk penjara enak kali ya?” ujar polos sang anak.
”Apa enaknyah sih? Masup penjara
lo bilang enak.” sang ibu menjawab sekadarnya dengan tutur bahasa dan nada yang
kurang simpatik. Agak ketus.
”Kalo masuk penjara kan enak, Mak. Bisa makan gratis. Bisa makan daging,
makan enak-enak deh. Gak susah-susah cari makan.”
Astagfirullah, begitu
pendek fikir lugunya. Ia hanya ingin kemudahan makan. Ia hanya ingin kelezatan
makan. Duh Rabb, maaf kan hamba yang
banyak tidak bersyukur atas Rahmat-Mu.
Sang ibu tertawa sambil membenahi helaian anak-anak rambut yang mulai
lembab karena keringat dan kemudian menyusul jawaban yang kurasa sepatutnya
tidak demikian isinya.
”Emang bisa masup penjara
langsung? Kalo penjara tuh tempatnya anak-anak nakal, yang suka nyolong, suka
ngerampok. Baru dah mereka ditangkep trus dipenjara. Kalo lo gak salah mah kagak bisa masup penjara.” jawaban yang begitu santai. Tanpa beban dan
pembenahan atas argumentasi anak yang salah.
Ya Rabb, apa gerangan yang membuat
sang ibu mampu tertawa menjawab pertanyaan buah hatinya? Bukankah semestinya ia
mampu meluruskan argumentasi sang buah hati yang notabene sudah keliru?
Tidakkah ia merasa sedih anaknya menginginkan kebahagiaan yang belum mampu ia
berikan?
Tak lama mereka berlima turun dari angkutan yang sama-sama kami naiki,
mendahului aku dan rekanku. Aku dan rekanku hanya mampu saling bertatapan sayu,
mengisyaratkan bahwa kami sama-sama tertegun menatap ironi di hadapan kami.
Sambil terus beristighfar dalam hati.
Entah apalagi yang mereka bicarakan selepas percakapan-percakapan singkat
tadi. Semoga Allah membimbing kalian dan kita semua. Aamiin Allahuma Aamiin.
14 Juli
2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar