Dok. Pribadi: Gak semua orang mau dan sanggup menjemput rezeki dengan jalan seperti ini kan? :)
“Gak semua orang mau kerja kayak aku. Kalau semuanya gak mau
kerja kayak gini, siapa yang urusin tower? Siapa yang ngurusin jaringan
telepon? Kita suka telponan kan? Kalo gak ada yang kerja kayak aku, nanti kita
gak bisa telponan lho…” ujarnya sambil diiringi nada canda.
Aku hanya terdiam saat pesan
singkat itu singgah di ponselku siang itu. Lunglai. Lelakiku pamit pergi *lagi*
keluar kota untuk segenap tugasnya. Bukannya aku tak tahu resiko ini dari awal
komitmen, tapi aku fikir mungkin seiring berjalannya waktu aku mampu
mengimbanginya. Dialah lelakiku. Calon imamku *aamiin* yang sedang menata diri
dan kondisi untuk niat mulia kami. Dia bukanlah eksekutif muda yang mondar-mandir dari satu tempat ke tempat
lain. Lelaki lempeng *pendiem banget
orangnya,simple, gak neko-neko :p* yang manis itu *ehem* adalah pria
bertanggung jawab yang bekerja banting tulang untuk keluarganya. Dia seorang
pekerja Lapangan yang tangguh. Pindah dari satu kota ke kota lain, demi
lancarnya telekomunikasi orang-orang. Bukannya ia betah, bukannya tak
melelahkan. Sekali lagi, apapun itu semua demi tanggung jawabnya. Ah, ini yang
buatku jatuh cinta.
Siang itu ia pamit, besok
rencananya akan terbang menuju pulau yang nampak seperti huruf “K” di peta itu.
Hanya seminggu, kemudian terbang lagi menuju pulau paling barat di Indonesia.
Begitulah pamitnya. Hmmm, aku merutuk, aku bergumam, menumpahkan kesal dalam
kertas-kertas kosong yang akhirnya berserak di lantai. Belum menikah saja
rasanya berat kalau harus jauh terus menerus *karena komunikasi pun ikut-ikutan
tersendat* apalagi nanti setelah menikah? Bukankah akan lebih gundah rasanya
bila rumah kecil kami hanya ku isi seorang diri, sedang dia selalu dalam
mobilitas kerja yang tinggi? Aduh Rabb,
boleh ku bilang aku tak sanggup? Tapi aku sedemikian mencintainya. Ia begitu
sabar, teduh dan menerimaku apa adanya. Ia begitu bertanggung jawab. Lalu
dimana kurangnya? Pekerjaannya? Ah, sempit rasanya kalau ku penggal semua
perjalanan panjang kita hanya karena pekerjaan. Bukankah semestinya kita saling
mendukung?
Aku menangis. Rasanya lelah. Tapi
lelakiku datang di satu ketika dengan mengusap bahu sembari menggenggam
jemariku erat-erat.
“Sabar-sabar ya Nda…” Ia biasa menyapaku Dinda *so sweet
kan? :p*
“Gak semua orang mau kerja kayak
aku. Kalau semuanya gak mau kerja kayak gini, siapa yang urusin tower? Siapa
yang ngurusin jaringan telepon? Kita suka telponan kan? Kalo gak ada yang kerja
kayak aku, nanti kita gak bisa telponan loh…” ujarnya sambil diiringi nada
canda.
Aku masih diam. Masih menunduk.
“Ah, kamu kan enak mondar-mandir.
Gak berasa sepinya. Kamu gak ngerasain jadi aku sih…” Sanggahku dalam hati.
Sembari menggigit bibir. Menahan tangis tepatnya.
“Nda, kamu bayangin deh. Kalo semua orang kerjanya kayak orang
kantoran yang sabtu minggu libur, nanti siapa yang jaga loket tempat liburan?
Kalo gitu, tempat liburannya kosong dong, terus kita gak bisa liburan. Ya kan?
Jadi kita hargain aja ya tiap kerjaan yang ada.” Ia masih konsen meyakinkanku.
Masih menggenggam jemariku, kuat. Menguatkan.
Hari-hari pun bergulir. Hatiku
masih labil. Kadang terima, tapi kadang emosi jiwa kalau sudah dipamiti ke luar
kota. Hingga akhirnya di suatu pagi yang masih sendu, ketika aku beranjak
menuju kantor, dari balik jendela bus ku liat sejumlah pemuda dan lelaki
separuh baya ke atas sudah bergumul dengan cangkul dan baju belepotan tanah.
Merekalah pekerja proyek pelebaran jalan tol. Pagi kulihat, bahkan sesore
ketika ku pulang mereka masih saja bekerja. Tak pulang, hingga proyek memang
benar-benar selesai. Aku menangis dalam hati, mengingat ayah dan lelakiku. Kali
lain aku menangkap kesenduan pekerja bangunan yang sedang istirahat di bangunan
*yang mereka bangun* yang belum jadi sambil menatap kosong cakrawala, seperti merindu keluarga
nun jauh di sana.
Illahi Rabbi, betapa sungguh beban kepala keluarga itu berat.
Betapa bertanggung jawabnya lelaki-lelaki tangguh itu. Aku menangis lagi.
Egoisnya aku hanya memikir rasa sepiku. Padahal lelaki-lelaki itu pun tak
kurang-kurangnya menahan beban dan segenap rindu bila jauh dari rumah. Bukankah
wanita-wanita pendamping lelaki-lelaki hebat itu sedemikian kuat mendamping
pasangannya? Kenapa aku tidak? Kenapa memikirkan meyerah, padahal ia tengah
berjuang sekuat yang ia bisa? Rabb,
sekali lagi ku mohon ampun. Ampun karena tak mampu menata kesabaran, keluasan
hati. Lelakiku, maafkan aku yang masih
sering tak menguatkanmu. Aku mencintaimu, lelakiku….
Didedikasikan
untuk Lelakiku, Hilman….
Catatan Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar