Senin, 16 Desember 2013

Ada Rindu dalam Mata Bulat Aini

Gambar Ilustrasi: Ayah, Bunda berhentilah. Aku lelah.
Namanya Aini, sebut saja demikian. Anak gadis yang cukup modis untuk seusianya ini, termasuk abk di tingkat 2. Sama dengan si ganteng kesayangan, hanya berbeda kelas. Aku mengenalnya dari perbincangan dengan guru pendampingnya yang mengajariku awal-awal ketika menjadi shadow teacher. Bu Zahra *sebut saja demikian, untuk menjaga identitas ybs*, sudah mendampinginya sejak Februari 2012 ketika Aini duduk di kelas 1.

Aini anak yang cerdas. Hanya saja, emosinya amatlah tidak teratur. Kadang teriakan dan hentakan kakinya terdengar hingga kelas kami yng berada di seberang kelasnya. Menurut diagnosa, memang ada kendala dalam segi kesehatannya yang mempegaruhi tingkat kestabilan emosinya. Hingga saat ini Aini masih terus didampingi dalam proses belajar mengajar. Selain itu, terapi rutin pun dilaksanakan guna menunjang kestabilan emosi Aini.

Hingga disore hari yang lembab diguyur rintik hujan, Bu Zahra mampir ke kelasku dan sedikit bersenda gurau sambil menunggu hujan reda. Lepas dari perbincangan ringan, kami sama-sama bertukar cerita tentang “anak” masing-masing. Ya, Aini dan si ganteng adalah anak-anak kami yang di luar tugas, tetap kami anggap anak. Tetap terhambur doa dalam sujud. Tetiba saja Bu Zahra menceritakan bahwa hari ini Aini murung. Emosinya kembali berantakan. Airmata tumpah, emosi membuncah. Kenapa dirimu duhai Aini?

Lekat Bu Zahra mendampingi Aini. Isaknya lumayan menyayat hati. Tatapan Aini sendu bukan main. Kenapa Nak? Bu Zahra memantapkan tanya agar selesai isak Aini. Lirih Aini berujar, Aku rindu Ayah….
Aku hening. Dahiku berkernyit. Rindu? Ayahnya bertugas di luar kota? Atau bagaimana? Mengapa rindu itu menggelayut hingga memainkan emosimu sedemikian hingga, Aini?

Bu Zahra menghela nafas panjang. Aini wajar saja rindu. Kedua orang tuanya sudah sekian lama berpisah. Dan dengan kondisi perpisahan yang kurang baik. Aini kesulitan bertemu Ayahnya. Aini terpisah sejak Taman Kanak-kanak. Aini mengenal laki-laki disekitarnya sebagai Bapak, Papa, Papi dan sebagainya. Alasan Bundanya, agar Aini tak kehilangan sosok Ayah. Tapi Aini tetaplah gadis yang pada akhirnya menyadari ada yang kurang dari semua ini. Ia akhirnya menyadari ada rindu yang terpampang nyata dalam benak. Aini masih terisak.

Bu Zahra kembali ke hadapan Aini dengan secarik Scrap Paper. Ia meminta Aini menumpahkan apa yang ia rasa pada kertas kosong tersebut. Tulislah apa yang Aini rasa sekarang. Jangan sedih, tulis saja apa yang ingin Aini sampaikan pada Ayah.

Aini tertegun. Sebentar ia usap aliran air mata yang menganak sungai sedari tadi. Dengan segera kertas kosong itu menjadi penuh kata. Menjadi kalimat sendu yang menggetarkan tiap mata yang membacanya.

"Ayah, Aini kangen banget sama Ayah…
Aini kangen kita main sama-sama…
Aini kangen bercanda sama Ayah…
Aini juga kangen main sepeda sama Ayah…
Aini sayang Ayah…"

Hati mana yang tak ngilu. Membaca deretan kalimat polos yang terurai dari gadis kecil yang tulus merindukan Ayahnya. Ah, basah mata ini. Bu Zahra diam sejenak, memahami ku yang mulai merasakan pilu itu. Bu Zahra tersenyum, memandangku sekilas. Ia tak lagi berurai ketika bercerita tentang Aini. Bukan tak pilu, tapi sudah lama ia menguatkan hati untuk kekuatan Aini. Aini, perlu itu.

Ya, itu gambaran kecil dari Aini. Aini yang sampai detik ini mungkin masih rapat mengunci kerinduannya. Meski sesekali ia dapat bertemu, tetap ada ruang kosong, kehampaan yang ada di hati kecilnya. Salahkah orang tua Aini? Hmm, tentu bukan wilayah umum yang bisa menilai. Pasti ada alasan di balik ini semua. Tapi semua ini tertumpah, agar menjadi pelajaran berharga. Agar tiada lagi kesedihan Aini-aini lain.

Nak, matamu yan bulat bening itu tetaplah tatapan gadis nan lugu. Gadis manis yang berilmu. Semoga Allah mengangkat gundahmu. Semoga Allah menjaga hari-harimu dan mewarnai harimu dengan RahmanNya. Aamiin.. :)


Langit Jingga
16 Desember 2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar