| Suasana Ujian Sangir Class |
Pagi hari dihari pertama pada pekan Ujian Akhir Semester, 09 Desember 2013. Termasuk untuk si ganteng kesanyangan *tentu masih lekat dalam ingat, siapa yang kusapa demikian :) *. Pendidikan Agama Islam, menjadi ujian pertama yang harus kami lalui. Degup jantung tak tentu menghambur begitu saja. Diawali dari keterlambatanku yang sampai di kelas pada last minute. Tol Cimanggis yang biasanya lengang di pagi hari, entah kenapa begitu padat, sangat padat. Hingga sampailah aku di kelas kurang lebih pada pukul 08.00, tepat pada saat ujian dimulai. Padahal semestinya, aku harus sudah stand by sejak pukul 07.30 :(. Jelas saja jantung degup tak tentu. Kalang kabut.
Usai menarik nafas panjang, kulirik si ganteng kesayangan di meja ujiannya. Nomor 15. Dengan kaos biru *sepertinya masih baru, karena aku baru melihatnya ia mengenakan kaos biru tersebut. Hehehe :)* ia nampak biasa saja. Tak terlihat raut wajah tegang dan khawatir seperti sejumlah temannya yang lain. Duh mantap, Nak. Ini jadi modalmu yang sangat baik :). Setelah membaca Basmallah, kami memulai mengerjakan ujian PAI tersebut. Kekhawatiran terbesarku adalah mengenai mood nya dalam mengerjakan soal demi soal. Pasalnya saat mengerjakan worksheet harian pun, mood nya bisa saja ndelosor anjlok tak terduga. Kalau sudah begitu, jangankan mengerjakan, memandang soal pun enggan. Lalu bagaimaana dengan UAS yang jumlah soalnya bisa 2x lipat dari worksheet?
Dan dugaanku meleset sangat jauh. Sangat sangat jauh. Nyatanya, si ganteng kesayangan sangat antusias menjawab tiap pertanyaan yang tersaji dihadapan. Si ganteng kesayangan yang masih terbatas dalam kemampuan linguistiknya, mesti dibantu dalam pembacaan dan pemahaman soal. Apa yang terjadi? Subhanallah¸sungguh di luar dugaan ia mampu menjawab apa yang kutanyakan *berdasarkan soal*. Ia antusias menanti pertanyaan demi pertanyaan. Apa yang kuajarkan *dengan caraku yang mem-visual-kan materi* selama ini, ternyata masuk dan cukup lekat. Rasanya terharu ketika ia mampu menghapal apa arti Ar-rahman *dengan mem-visual-kan tangan seperti sedang memberi* yaitu Allah Maha Pengasih dan Ar-rahiim *dengan mem-visual-kan tanganku membelai pipinya* yaitu Allah Maha Penyayang. Ah, Subhanallah sekali, Maha Suci Allah yang melekatkan pemahaman tentang dien-Nya begitu lekat dibanding materi lainnya :).
Singkat cerita, sampailah kami pada soal terakhir. Sebuah essay terakhir. Kurang lebih begini bentuk pertanyaannya: “…Allah sangat menyukai perbuatan baik. Sebutkanlah contoh perbuatan baik yang kamu ketahui…”. Si ganteng kesayangan pun hanya memandangiku sambil sesekali bekedip. Sebuah isyarat bahwa ia belum menangkap apa yang dimaksud. Lalu aku coba mendetailkan arah soal, agar ia mengerti apa yang dimaksud.
“Begini, kira-kira apa yang kamu lakukan, sehingga orang lain bilang kamu baik?”
Dan ia masih mematung, sesekali menggerak-gerakkan bola mata, menyapu pandang ke luar saung kelas. Sepertinya masih juga belum memperoleh jawaban atas pemahaman soal tadi. Sepertinya analogiku kurang masuk. Pasalnya ia memang terkenal jahil *mengenai kenapa ia jahil, sudah dibahas sebelumnya. Yang pasti kejahilannya berbeda. Punya alasan. Cek ya :)* dan sepanjang aku mendampinginya, memang belum ku dengar ada yang menyapanya “…duh, baiknya kamu”. Hmm baiklah, sepertinya analoginya harus ku ubah agar ia mampu menjawab soal pada essay terakhir tersebut.
“Hmm baiklah, Nak. Adakah di Sangir *nama kelas kami* yang kamu nilai baik?”.
Ia pun mengangguk. Aku sedikit lega dan melanjutkan tanya untuk mengarahkan agar soal terakhir terselesaikan.
“Siapa? Dan apa yang dia lakukan sampai kamu bilang dia baik?”
Tapi ia malah terdiam, memutar-mutarkan kembali bola matanya. Tak menemukan kata yang bisa dilontarkan sebagai jawaban. Aku masih berpikir kembali, analogi apa yang mesti aku sampaikan. Ia harus bisa menyelesaikan essay terakhir ini. Dan aku pun kembali menyampaikan analogi lainnya.
“Begini Nak, apa Bu Putri *sapaanku di sekolah* baik?”
Ia mengangguk seraya menatapku cukup dalam. Tetiba jantungku berdesir. Ada GeeR merasuk, hehehe. Tak sangka dalam dinginnya *si ganteng kesayangan kadang cukup dingin padaku saat aku dampingi* ternyata menilaiku baik untuknya.
“Kenapa Bu Putri kamu bilang baik?”
“Nyayang *maksudnya aku menyayanginya*” ujarnya cepat seraya lekat menatapku dengan dua bola matanya yang kecoklatan. Begitu bening. Begitu tulus.
Deg. Jantungku seketika seperti ambrol. Rasanya jantungku jatuh se-per-sekian detik. Terharu benar. Anak tampan dihadapanku ini, ternyata merasakan apa yang ku alirkan padanya selama aku mendampinginya. Ya, sayang. Aku memang menyayanginya. Tak putus aku menyemangatinya ketika rasa malas dan lelah menghampirinya saat belajar. Tak lelah tangan ini membelainya saat pandangannya mulai mengisyaratkan jenuh. Ya, segenap rasa tercurah saat mendampinginya. Di luar dari tugasku sebagai pendamping, aku memang menggantungkan asa begitu besar kepadanya. Suatu saat ia bisa mandiri, ia bisa lebih baik lagi di tiap harinya. Harus. Dan aku optimis akan hal ini.
Ah, terima kasih nak , kau terima rasa ini dengan tulus. Terima kasih. Iya Nak, Bu Putri Menyayangimu. Setulus yang bisa Ibu beri.
“Iya, boleh Nak. Sekarang kamu tulis ya jawabannya. Menyayangi…..” :).
Langit Jingga
17 Desember 2013
17 Desember 2013
hehehe nice story..
BalasHapussemoga menjadi pembangkit semangat mu
Terima kasih, Mas HIlman.....
BalasHapusAamiin....
Terima kasih untuk segala bentuk supportnya....
Terima kasih juga sudah berkenan mampir membaca... :)