Wuidih, judulnya serem ya. Berasa sibuker buanget nget nget. Hehehe. Ya
tapi itu adanya. Dulu Saya yang selalu tampil ceria *uhuk* sebenarnya sering
sekali merasa kesepian. Lahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara yang
ditinggal merit kakak sejak 9 tahun silam, membuat Saya sering sepi di rumah.
Padahal sepulang kerja, waktu luang lumayan banyak. Ba’da ashar, Saya udah
nongkrong di rumah tercintah :D. Ya gitu lah, hari-hari banyak sepinya. Hidup
sama ibu yang mulai banyak menghabiskan waktu untuk istirahat dan Bapak yang
sering pulang larut, layaknya hidup sebagai anak tunggal yang kesepian *narik
nafas panjang*.
ODOJ, One Day One Juz mengubah segalanya. Sekarang Saya sudah tidak punya
waktu luang. Semua sudah penuh tiap harinya. Dan Saya bahagia. Sangat bahagia.
Bagaimana tidak? Hidup berasa adem, ayem,
tentrem *Emmmmm, hehehehe*. Tidak
ada lagi sepi menyelimuti. Produktivitas meningkat. Percaya atau tidak, ya
begitu nyatanya. Subhanallah sekali
khasiat dari tilawah.
Biasanya waktu luang membuat Saya mengawang-awang pada duka, sepi dan
galau *kata bahasa anak gaul sih gitu :p*. Rasa acak adul gak karuan. Sekarang,
tidak ada lagi luang karena waktu sudah terisi dengan tilawah. Kosongnya waktu
rasanya sia-sia tanpa tilawah. Sekarang rindu betul jika tak menggenggam
Qur’an, mengejanya dengan terbata karena kekurangan diri yang belum juga
sempurna.
Itulah Tilawah, membuat hari-hari semakin indah. Obat dari segala macam
penyakit, termasuk yang non medis. Benar, ini benar adanya. Cobalah. Sehari 1
juz itu tiadalah berat. Sungguh. Cobalah. Hanya 10 lembar bolak-balik dalam 1
juz. Artinya dapat dengan sistem cicil 2 halaman bolak-balik setiap habis
shalat fardu.
Begini, sebenarnya setengah juz bisa selesai 30 menit kurang lebihnya.
Jika digeber, 1 jam bisa selesai 1
juz. Artinya kurang lebih, 1 lembar bolak-balik hanya memakan waktu 6 menit
saja. Bayangkan. Mudah bukan? Menunggu waktu seluang apa sehingga mampu
menyelesaikan 1 juz? Sendirian memang berat. Maka bergabunglah dengan komunitas
ODOJ. Ada ukhuwah yang menyemangati untuk berdampingan di Jannah, Subhanallah.
8 Januari 2014, barulah Saya bergabung dengan komunitas ODOJ ke #1121. –Jauh
ya, hehehe :p— Kenapa? Awalnya Saya pribadi ragu, akankah Saya mampu
menyelesaikan 1 juz sehari. Kok rasanya berat ya. Akhirnya kekeringan hati “memaksa”
diri untuk mendaftar pada komunitas. Alhamdulillah tergabung. Dan segalanya
dimulai dengan indah.
Skenario Allah mengantarkan Saya memulai pada juz 2. Terjemah dibaca
dengan niatan mendalam. Ternyata, skenario Allah Maha indah. Menangis Saya
menangis. Bukan main, pada juz itu segala gundah Allah jawab.
“Wahai orang-orang beriman!
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah
beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al Baqarah: 153]
“Dan Kami pasti akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.” [QS. Al Baqarah:
155]
“Dan apabila hamba-hambaKu
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku
kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah
mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh
kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]
Pada keesokkan harinya di juz ke tiga.
“Setan menjanjikan
(menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir),
sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha
luas, Maha Mengetahui.” [QS. Al Baqarah: 268]
“Allah tidak membebani seseorang
kecuali sesuai dengan kesanggupannya. ……” [QS. Al Baqarah: 286]
“Dijadikan terasa indah dalam
pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas
dan perak kuda pilihan hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [QS. Ali Imran: 14]
Itu hanya sekelumit dari sekian banyak hikmah yang Saya peroleh dari
khataman ODOJ dalam 2 hari saja. Menangis Saya tak terkata. Ya Allah, benar
adanya, Tilawah benar-benar mujarab mengobati hati yang gundah nan kering. Dari
logika yang berbatas. Kepasrahan dan kesabaran yang selama ini tertinggalkan dengan
gerusan logika yang sama sekali jauh dari rasa tentram.
Mulai saat itu dan Insya Allah semoga istiqomah ke depannya, Saya tak
ingin punya waktu luang. Waktu Saya adalah untuk berkegiatan *sesuai kewajiban
duniawi, bekerja dll* dan beribadah, bertilawah. Rasanya hidup seimbang. Telat Saya
menyadari ketentraman diri. Tapi semua wajib mencoba. Yang kemerungsung dengan duniawi, yuk tanya hati. Sudahkah ia kering
dari tilawah nan indah?
Langit Jingga
12 Januari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar