Kamis, 16 Januari 2014

Kotak itu bernama televisi

Ya, kotak itu namanya televisi.
Kotak yang berupa-rupa gambar berjejal di dalamnya.
Entah gambar yang layak ditonton atau tidak, dia akan tetap menampilkannya.
Namanya televisi, yang beragam program bisa beraksi hampir sepanjang hari.
Entah bermanfaat atau justru membawa sesat, si kotak tak peduli.
Kotak itu kini semakin besar dan menarik.
Semakin ciut pupil menatap cahaya yang begitu jelas berkilauan dari Sang kotak modern.
Kini semakin panjang durasi gambar-gambar bergerak itu berseliweran.
Subuh buta hingga dini hari.
Bahkan ada yang benar-benar sepanjang hari.
Semakin menarik mata.
Kalau dulu ketika Aku kecil ia begitu mewah, kini ia barang lumrah.
Baik kah?
Rasanya tidak terlalu.
Apa yang didapat?
Toh berita sudah berpihak. Tak lagi jelas seperti nyatanya.
Cerita? Ah sudah tak nyata juga.
Beragam settingan bak hal biasa saja.
Lalu apa untungnya?
Hidup jadi seperti berpura-pura belaka.
Kotakku, dulu jadi barang mewah yang memiliki manfaat berlimpah.
Tapi sekarang sudah seperti sampah.
Oh televisi, kotakku yang sudah hilang arti.






Pic From Arham Kendari via kompasiana http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/30/inilah-racun-yang-kita-sebut-hiburan-komik-inside-606402.html


Langit Jingga

08 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar