Hari lalu kusut. Sedari tengah malam sebelumnya Aku sibuk obrak abrik berkas. Mencari-cari potret Ibu untuk syarat pendaftaran JKN - BPJS. Ya, tinggal syarat itu yang belum terpenuhi. Tekat kuat menyelesaikan yang satu ini, sebelum kembali beraktifitas dan nantinya akan sulit diurus setelah masuk bekerja kembali.
Aku hanya termangu, menatap Ibu dan Bapak yang sudah pulas tidur sedari tadi. Ibu mengeluh sakit sejak kemarin. Dan akhirnya, hari ini berhasil dibujuk untuk ke mantri langganan. Ibu Vertigo. Menurut Sang Mantri, Ibu jangan dulu minum yang dingin-dingin."Nanti darahnyan drop lagi". Begitu katanya.
Bapak pun yang sejak pulang bekerja mengeluh pegal dan nyeri, sudah mulai terlelap. Ah, mereka sudah mulai perlu perhatian ekstra. Tersadar, bahwa mereka tak lagi muda. Kelu. Tak terungkap khawatir yang menyergap. Tekad makin kuat, esok mesti mengurus asuransi itu, demi mereka.
Lama sudah berita tentang asuransi dari pemerintahan itu ku dengar. Senang bukan kepalang.Dari dulu sungguh sangat ingin mendaftarkan mereka pada asuransi swasta, apa daya, beragam kesulitan ditemui. Oke skip skip. Lanjut mengenai BPJS, ku alihkan diri mencari informasi ini dan itu. Tapi nyatanya buntu. Untuk sekedar pendaftaran, persyaratan, premi dan hak-haknya kemudian tiadalah gamblang ditemui. sebatas pada informasi-informasi singkat yang tak melepas dahaga keingintahuan.
Akhirnya malam itu dengan bantuan sejumlah rekan-rekan berhasillah kutemui sedikit titik terang. Tekad membulat, esok harinya Aku beranjak menuju kantor Askes di Pemda Kabupaten Bogor. Persyaratan yang kugenggam adalah Fotocopy KTP *formasi lengkap, Ibu, Bapak, Aku*, Pasfoto dan Fotocopy Kartu Keluarga. Agak kurang yakin karena sungguh, informasi masihmelayang-layang. Rasanya kebijakan pemerintah kali ini masih setengah-setengah. Sedikit kecewa dan bimbang, dengan Bismillah aku yakinkan melangkah diantar Juna.
Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, tapi antrian membludak seperti tak terkendali. Penuh. Satpam hanya menyodorkan Form Pendaftaran. Menjawab dengan baik apa yang jadi pertanyaan banyak pihak. Karena mesti ditandatangani Bapak, Aku pun melipir pulang. Menunggu Bapak menandatangani dan mengembalikan form pendaftaran entah kapan. Karena Senin aku sudah harus kembali memulai aktifitas. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. sedikit gundah. Hanya mampu berdoa dalam hati, semoga urusan ini lekas selesai. Demi Ibu dan Bapak.
Ku tatap lekat-lekat tiap poin yang tertera dalam Form dan mengisinya. Tap. Matapun tertuju pada premi yang diajukan. Sempat bingung dalam memilih, akhirnya diputuskan untuk memilih premi kelas II saja. Rp.42.500. Semoga cukup dan memuaskan. Ya, bukan hanya Aku tapi sejumlah pengantri pun mengeluhkan ketidakjelasan premi dan klaimnya. Namun terhatur doa yang sama, semoga suatu saat ketika dibutuhkan, tiadalah hal yang berpotensi menyulitkkan pihak manapun termasuk customer.
Tak sekali dua kali aku bolak balik ke Askes. Karena sejumlah persyaratan yang kurang *foto Ibu kurang 1 lembar*. Lelah. Tapi tekad sudah menguatkan. Dan untungnya bersama Juna. Duh lumayan jika jalan kaki mondar-mandir. Habis sudah.
Kembali ke kantor Askes, ternyata Aku kehabisan antrian. Jam menunjukkan pukul 14.00. Askes pun tutup pukul 16.00. Komat-kamit doa terpanjat. Rabb, mudahkan urusanku kali ini. Demi mereka. Bukan hanya Aku. Sekali lagi bukan hanya Aku. Lalu lalang orang di luar masih banyak. Dan membawa beragam cerita. Menyita simpati hati ini.
Seorang Ibu renta datang dengan kebingungannya, berjuang demi anaknya yang 20 tahun sudah mengidap gangguan jiwa. Tak sekali dua kali ia ditolak Rumah Sakit. Dan ia berharap JKN ini mampu memberikan harapan baginya, bagi putranya. Betapa besar harapan itu terlihat. Ibu Manah. Begitu namanya. Ia mesti bolak-balik guna melengkapi persyaratan. Tak mau mengalah dengan lelah, ia tetap sumringah. Meski Aku sangat melihat gurat lelah itu. Namun ternyata, harapannya lebih besar ketimbang lelahnya.
Kemudian Seorang Istri yang jua tak mau mundur karena letih. Istri yang dengan setia mengurus JKN untuk keperluan cuci darah suaminya Senin esok. Harapannya pun besar, sangat besar akan kemudahan dengan JKN. Dan harapan kesembuhan Suaminya.
Tak lama, datang seorang pria yang menurutku masih cukup muda. 35 tahunan, mungkin. Ia tak banyak bicara, malah sering tersenyum. Ia baru pulang kerja setengah hari. Dan sepertiku, ia pun tak kebagian nomor antrian. Namun sama kuatnya tekat, Kami memilih menunggu terlebih dahulu. Tak dinyana, kekuatatnnya bertahan di kantor BPJS untuk buah hatinya. Sang pemata berusia 12 tahun. Buah hati yang senin esok harus menjadi kemoterapi.Buah hati yang belum lama ini dirawat selama 2 minggu karena Leukimianya. Penyakit yang baru 2bulan terkahir ini diketahui bersarah dalam tubuh buah hatinya. Ia mesti kokoh berjuang, juga demi kemudahan pengobatan Pematanya.
Itu hanya sekelumit warna-warni pendaftaran JKN di Kantor BPJS Kesehatan. Sendu yang menyeruak. Kekuatan yang dahsyat dari orang-orang hebat yang bertahan kuat demi orang-orang yang mereka sayang. Hanya potret sedikit dari Jutaan masyarakat lain Yang juga sedang berlelah-lelah mengurus semua ini.
Senin Esok, 6 Januari 2014, Aku akan kembali menuju Kantor tersebut. Berharap ada kabar baik mengenai pengajuan kepesertaan JKN yang kuajukan untukku dan Ibu Bapak. Aamiin.
Langit Jingga
4 Januari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar