--------------------------------------------
Ceritanya adalah mengenai seorang pemuda yang tersesat di hutan. Malam menyergap, dingin, lapar, haus, namun tak juga ia temui ujung hutan yang benderang oleh lampu rumah warga. Nyaris putus asa, ia tetap melangkah sembari tetap berdoa agar segera menemukan rumah penduduk.
Tetiba saja, doanya terjawab. Samar-samar dari kejauhan ia melihat setitik cahaya terang. Sepertinya sebuah rumah. Meski aneh, karena hanya ada sebuah rumah di tengah hutan yang gelap nan dingin. Ia tetap sumringah, semangat melangkah menuju arah cahaya. Tap. Binar matanya semakin terlihat, manakala rumah sederhana itu makin lama makin jelas terlihat. Langkahnya semakin cepat, ingin segera mengetuk dan menemui si empunya rumah. Membayangkan secangkir teh panas yang menghangatkan tubuh yang nyaris membeku.
Sejurus kemudian, sang pemuda pun sampai tepat di depan pintu rumah kayu tersebut. Nampak sederhana namun kehangatannya sudah menyeruak. Sang pemuda pun dengan mengetuk pintu rumah perlahan. Beberapa kali ketukan tidak jua menemui jawaban. Sang pemuda mulai gelisah. Tak putus asa, ia kembali mengetuk. Tak lama, derit pintu terdengar sedikit menyeramkan tanda bahwa pintu bergeser, terbuka. Jreng jreng, sesosok tinggi besar muncul dari balik pintu. Wajahnya kumal, rambut awut-awutan dan mata tak cemerlang. Aih, raksasakah ini?
Bukan, meski berawal tak ramah, ia bukanlah sosok jahat. Ia menawari sang pemuda masuk. berbincang-bincang dan kemudian menawari secangkir teh hangat. Sang pemuda pun setuju, sangat setuju. Tak lama kemudian, si hulk hutan ini datang kembali dengan secangkir teh usang. Sembari tersenyum lebar, ia bilang bahwa ini adalah cangkir teh satu-satunya yang jadi miliknya, yang biasa ia gunakan.
Glek. Sang pemuda menelan ludah. Pasalnya, jajaran gigi si empunya rumah kotor bukan main. Seperti tak pernah mandi dan gosok gigi. Karang, kotoran. Ah, rasanya tak ingin meminum dari cangkir satu-satunya yang biasa ia gunakan. Tapi apa daya, sebelum rasa dingin ini membunuh, apapun itu sang pemuda harus meminumnya.
Namun otaknya berputar mencari ide, bagaimana agar tak jijik. Ahaaaaaaaa, tetiba ide muncul. Supaya tak "mencium" jejak sang empunya rumah di cangkir tersebut, ia memilih meminum dari sisi cangkir, tepat di atas pegangan cangkir. Ia berpikir, "Ah, pastilah ini satu-satunya tempat yang tak terkena bagian mulut sang empunya rumah. Pasti aman."
Glek, glek, glek. Sang pemuda pun menenggak air teh hangatnya sampai habis. Lega. Hangat. Namun disambut gelak tawa sang empunya rumah. Ia menjelaskan pada sang pemuda yang nampak bingung, bahwa baru kali ini, ada tamu yang meminum teh dari sisi cangkir seperti biasanya sang empunya rumah minum.
Glek, glek, glek. Sang pemuda pun menenggak air teh hangatnya sampai habis. Lega. Hangat. Namun disambut gelak tawa sang empunya rumah. Ia menjelaskan pada sang pemuda yang nampak bingung, bahwa baru kali ini, ada tamu yang meminum teh dari sisi cangkir seperti biasanya sang empunya rumah minum.
Sang pemuda pun tersenyum kecut, antara kecewa dan ingin.............
-----------------------------------------
Pesan yang saya ingat sampai saat ini adalah, bahwa kita tiadalah bisa menghindari sesuatu. Jalani. Semakin kita menghindari, semakin ia menghampiri. Dengan caranya sendiri. :)
Langit Jingga
17 Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar