Jumat, 17 Januari 2014

Kalau saja mau berpikir

Perayaan pergantian tahun, sudah lewat menjelang 3 pekan. Iya, sudah lama. 31 Desember selalu saja jadi cerita menarik bagi kaum-kaum hedonis untuk berpesta pora dengan beragam alibi dan cerita. Salahkah?

Coba tilik lagi, dalam setiap perayaan di beberapa daerah besar, pasti memakan biaya yang tidak main-main. Bayangkan uang milyaran berhambur dalam semalam. Berhambur menguap bersama kepulan asap mengepul sisa kembang api. Tarikan senyum sesaat, secepat hilangnya efek kembang api. Inikah kebahagiaan yang dituju, yang katanya pesta rakyat? Miris. Padahal banyak rakyat lebih butuh penghidupan, pengobatan, pendidikan ketimbang hiburan sesaat. Ya, sekali lagi SESAAT.

Dok. Google
Yang Saya tidak habis pikir, kita semua tahu bahwa Januari, awal tahun selalu rutin diguyur hujan. Musim penghujan, meski kadang belum sampai pada puncaknya. Tak sekali dua kali intensitasnya tinggi. Sepanjang hari, hujan tak mereda. Hampir merata di seluruh pelosok negeri. Tentu tak perlu dijabarkan, bagaimana kondisi selanjutnya. Sudah jadi rahasia umum, bencana pasti menghampiri. Entah kita yang tak belajar atau memang ini adalah takdir tak terelakan, silakan dijawab sendiri dengan renungan yang sebenar-benarnya.

Kalau kita tahu, bahwa musim hujan kerap kali menjemput bencana *dipicu karena ulah manusia, misal pembalakan liar, pendangkalan sungai dan lain-lain* lalu kenapa di februari, maret sampai desember kita tak menata hidup dan lingkungan yang lebih baik?
Lalu kenapa tiap akhir tahun kau buang uang percuma demi kesenangan sesaat, padahal setelahnya selalu saja ada berita bencana yang membutuhkan bantuan?
Kenapa tak terpikir, Milyaran uang yang hendak kau pora-pora lebih baik kau simpan untuk kemanusiaan?
Ingatlah, ini bukan kejadian sekali dua kali. Hampir setiap tahun.
Mengapa tak jua kau mengambil pelajaran?



Dok. Google
Mudah memang, menjadi komentator seperti ini. Tapi rasanya, manusiawi Saya berpikir demikian. Bukan pembelaan, tapi ini memang berdasarkan kondisi nyata yang rutin sebagian dari kita "nikmati". Apakah hanya Saya yang merasa? Atau Anda juga?

Kalau saja mau berpikir.

Langit Jingga
17 Januari 2014

1 komentar: