Seperti janji Saya yang lalu mengenai mengurai cerita kue basah yang satu
ini, maka sekarang Saya akan mencoba menunaikannya.
Putu Mayang. Ya Kue Putu Mayang. Kue basah berbahan dasar tepung beras
dengan sajian gurih manis kuah gulanya. Rasanya lezat sekali. Menjadi istimewa
karena berjubel kenangan masa kecil menghampur manis semanis tiap suap kue
kriwil ini.
Dulu, ketika menjejak di sekolah dasar, kerap kali Saya turut Ibu ke
pasar. Si Ibu yang seorang ibu rumah tangga nan ulet, memang terhitung jarang
ke pasar. Alasannya, sayang ongkosnya, lebih baik dihemat. Toh warung dekat
rumah cukup banyak dan lengkap. Kecuali, ada keperluan yang tak dapat ditemui
di warung, barulah Si Ibu bergegas menaiki angkot dan menuju pasar tradisional
yang berjarak sekitar 2km dari rumah.
Dan disanalah letak istimewanya. Saya yang tergolong aktif, senang sekali
jika diajak keluar rumah. Walaupun sekedar ke pasar. Walaupun tak ada mainan
dan sejenisnya yang memanjakan layaknya anak-anak jaman sekarang. Saya cukup
senang dengan naik angkot dan memperhatikan ini itu sepanjang jalan. Melihat jalanan
dan warna-warninya. Memperhatikan seisi pasar dan hiruk pikuknya. Menyimak Si
Ibu riuh tawar menawar dari satu tempat ke tempat lain. Ah, Ibu memang jagoan. Hebat
nian. Semua demi keluarga :) *cups*.
Dan bagian-bagian lain yang tak tertinggal adalah, seusai berbelanja, Ibu
selalu menghentikan langkah di salah satu toko kue basah tengah pasar. Ibu biasa
menyapanya Enci *sapaan untuk perempuan beretnis cina*. Ia selalu
menyuruhku memilih penganan mana yang Saya inginkan. Selalu. Dan selalu ku
tunjuk si kriwil 3 warna, merah, putih, hijau berkuah gula dan santan, Putu
Mayang. 2 bungkus selalu menjadi kudapan untukku dan kakak yang menanti
sepulang sekolah. Dan semua selalu bergulir begitu. Meski tak seminggu sekali,
tapi justru memori indah itu menjadi momen yang dinanti-nanti. Kapan ke pasar lagi? :)
Kadang ritual belanja ke pasar diakhiri dengan semangkuk soto mie yang
lebih banyak ku santap risolnya saja dan menyisakan sejumlah sayuran lainnya. Tak
hanya itu, jika beruntung seplastik es dawet khas gula jawa asli jadi tentengan
menggembirakan setelah lelah memutar-mutar pasar.
Kini, agak sulit menemukan si kriwil Putu Mayang. Terlebih, pasar
tradisionalku yang meninggalkan segudang memori pun telah digubah. Kini hancur
dan dibangun yang baru dengan konsep –yang katanya– modern. Namun, memori
indah yang mengiringinya tetap selalu mudah ditemui di sudut hati.
Memori yang mungkin anak jaman sekarang tidak menemuinya. Kegembiraan masa
kecil yang begitu sederhana namun mengajari banyak hal. Dari mengekor Ibu ke
pasar, Saya tahu bagaimana menawar dengan cara yang baik tentunya. Dari sana Saya
belajar kehidupan dengan sejuta anekdot nya.
Putu Mayang, menggigitmu selalu menghadirkan kemanisan memori yang tak
lekang meski kini kau sulit lagi ku temui. Kuharap, hadirlah kembali. Setidaknya
mampu memberi kemanisan untuk generasi kini. Agar tak lagi memuja-muji penganan
luar yang menimbun banyak masalah di belakangnya. Dan menemukanmu siang kemarin,
sungguh bak mendapat undian. Senang betul. Dan memori pun kembali mengudara di
benak. Memori tengah pasar.
Langit Jingga
1 Desember 2014
1 Desember 2014

kutunggu di hari sabtu tuh kue putu
BalasHapusSiap melipir ke pasar :D #eh
BalasHapus