Pembaca yang budiman *ala-ala nulis resmi dan nulis penting :p*, tahukah anda dimana posisi andalan saya kalau ngangkot ? Yappppp, duduk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai angkot supaya baik jalannya *sepertinya kembali gagal fokus ._.*. Ya, itu adalah tempat "ter-aman-ku" kalaulah mesti menaiki angkutan kota dengan jarak tempuh yang terhitung lumayan. Kalau dekat sih, ya di mana saja pun jadi :p. Dengan jarak tempuh yang cukup jauh, aku bisa dengan tenang dan nyaman baca buku sambil dengar murrotal via headset. Atau menyelesaikan tilawah dengan tenang tanpa banyak sorotan *serasa selebritis dengan kemerlip paparazi :p*. Intinya ini adalah tempat favoritku, melabuhkan diri sampai aku tiba di tempat tujuan.
Tak dinyana, tempat "langgananku" ini selalu melahirkna inspirasi tersendiri. Kadang dikala macet mendera jalanan ibu kota dan ibu-ibu yang lain *ibu yang lain? ibu kiti atau ibu kita? atau ibu apa? Ya sudahlah, lupakan*, aku kerap membuka percakapan guna melemaskan otot tegang di wajah si Bapak pencari nafkah di sebelahku. Bukan aku main tebak, tapi ini sudah berdasarkan survey terbuka antara aku dan Bapakku yang juga seorang pengendara mobil untuk orang lain *dan aku selalu bangga padamu, Pak ^_^*. Bapak bilang ujian seorang supir itu bukan main. Teriknya jalanan yang bahkan bisa melahirkan fatamorgana "lautan" gelombang panas di jalanan itu masih tetap berasa bukan main meski ac kendaraan menyala penuh dalam kendara. Hal ini jelas memicu tingkat emosi menanjak pesat. Hal ini diperparah lagi dengan kemacetan yang membawa kejenuhan yang menjadi api penyulut emosi tambah berkobar. Belum lagi perkara pengguna jalan yang ugal-ugalan, main potong dan membahayakan. Bak angin kencang yang semakin memperbesar kobaran emosi. Ini baru di satu lokasi. Pernahkah satu dari kita yang sekarang asyik membaca tulisan ini menghabiskan atau mengabdikan sebagian besar waktunya di kuali jalanan yang panasnya bukan main? Paling lama dari kita, hanya beberapa jam saja. Itu pun sudah banyak mengerutu. Lalu bagaimana dengan mereka yang mencari nafkah di jalanan?Ya, demi mengurangi stres mereka, aku memulai percakapan. Tapi tak jarang mereka pula yang memulai percapakan. Sekali lagi, bukan bermaksud untuk bergenit-genit atau apalah. Hanya bentuk sosialisasi antara manusia saja.
Dan belum lama ini, melodi pun mengalir ketika aku pulang dari salah satu seminar dibilangan Depok, Jawa Barat. Sore menjelang diakhir pekan plus awal bulan, sukses membuat jalanan padat bukan main. Bak koloni-koloni semut yang mengerumuni gula dan memanisan lainnya. Kemacetan panjang pun tak dapat terelakan. Duduk di bangku depan membuat ku sangat jeli atas lelaku dan ucap Pak Supir. Kemacetan yang tak mereda selam 1 jam, menjadikannya kemerungsung. Sumpah serapah, binatang dan kata kotor jadi melodi sumbang sore itu. Aku hanya diam, sesekali tersenyum sembari berbasa-basi mengenai jalanan *macet ya pak? tumben ya pak? dan sebagainya.*. Ia pun kembali sopan dan menanggapi pembicaraan dengan baik. Namun kembali gusar ketika emosinya diletupkan perkara-perkara di atas tadi. Aku hanya menikmati melodi sore itu sambil mendoakan dalam hati, untuknya, untuk kawannya, untuk Bapakku dan untuk semua.
Tak disangka, di ujung jalan tempuh kami, dengan nada dan tatapan yang menyirat rasa bersalah, ia kembali membuka ucap dengan sopan, meminta maaf kepadaku.
"Maaf ya neng. Bapak kesel banget, jadi dari tadi ngomong kotor terus. Selama 5 tahun Bapak narik, gak pernah separahi ini." tutupnya sedikit parau.
Aku balas dengan senyum dan terus berdoa dalam hati demi kebaikan mereka. Tak sampai disitu, menjelang turun si Bapak ini bahkan membantuku sedemikian hingga agar tak terlalu kehujanan ketika turun dan menyambung angkutan selanjutnya. Begitu baik dan tulusnya Bapak setengah baya ini, seperti ingin membayar kesalahannya yang telah menghadirkan melodi sumbang di telingaku yang tepat duduk di sampingnya sebagai pembayar jasanya.
Melodi selanjutnya adalah tentang supir angkot yang tidak biasa. Yap, tidak biasa. Mereka hadir dengan latar belakang pendidikan ekstra. Mereka adalah lulusan-lulusan sarjana. Tidak main-main bukan? Terasa memang bedanya. Maaf, bukan artinya "mengecilkan" yang lain, tetapi memang ada sisi di mana pendidikan berandil besar pada pola pikir dan cara bicara. Kenapa ku sebut mereka? Setidaknya sudah kedua kalinya aku menumpang angkutan kota yang berpengemudi lulusan S1. Duduk di samping mereka dan larut dalam pembicaraan tingkat tinggi, menjadi melodi ceria yang menyegarkan. Awalnya ku pikir lantaran mereka rajin membaca koran ibu kota sehingga mampu berbicara cerdas dan kritis macam itu. Usut punya usut mereka menceritakan bahwa mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi.
1 dari mereka dalah seorang Sarjana Hukum. Tapi sayangnya aku lupa alasannya sehingga ia lebih memilih bekerja di balik kemudi. Yang pasti sempat di akhir pembicaraan ia ingin menunjukkan identitasnya, seolah ingin meyakinkanku bahwa ia seorang sarjana. Bukan bualan semata. Dalam hati aku terkekeh, malu pada diri yang sepertinya lebih sering sombong bin jumawa -_-. Tapi setidaknya yang aku ingat, ia bilang wirausaha lebih menantang dan lebih baik. Meski hasil tak selalu sama, tapi ia merasa ini lebih baik.
Dan 1 Supir Sarjana yang terakhir, yang belum lama aku temui adalah seorang Sarjana Ekonomi. Dengan mantap ia lebih memilih jalan menjadi IR. Apa itu? Injak Rem alias pengemudi. Bermodal angkot orang akhirnya memiliki 2 angkot yang walaupun kini sudah tergadai, ia tetap menikmati perjalanan hidupnya. Sekali lagi kalimat yang sama ku dengar. Ini lebih baik. Ia bisa menafkahi 3 anaknya bersekolah dengan baik tanpa hambatan, meski harus berjuang sendiri selama 3 tahun belakangan lantaran ditinggal istrinya berpulang lebih dulu.
Melodia supir angkot. Beragam nada mengalun indah di antara banyak pernik di jejalanan. Satu lagi terakhir, Bapakku dulunya seorang supir angkutan kota *ah, sayangnya foto gantengnya di depan angkutan jagoannya tidak lagi ku miliki*. Ia hanya tamatan STN yang berjuang sepeninggal ayahnya wafat. Mengadu nasib dari kota kecil di Jawa Timur, menjadikannya supir karena itu adalah satu dari yang bisa ia lakukan. Dan lakon iitu tetap ia jalani hingga detik ini, meski bukan ngangkot lagi. Ya, masih hingga detik aku mengetik tulisan ini *kemudian mata ngembeng sama cairan yang disebut airmata, untung aja dipegangin dari belakang. Kalo engga udah tumpah. Apasiiii? -_-*. Cita-citanya yang mampu aku wujudkan baru 1, salah satu anaknya ada yang memakai toga dan berwisuda.
Ini hanya satu dari melodi di dunia. Ada banyaaaaaak lagi melodi-melodi dari tangga nada lain. Coba lebih peka agar kita bisa lebih merasa lega dan hidup berdampingan yang menjadikannya satu melodi yang lebiiiih indah lagi :).
Langit Jingga
09 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar