Apakah aku
punya hak untuk berkata kecewa? Apakah ada hakku untuk memilih atau setidaknya
menjelaskan inginku? Apakah hanya boleh kau sandarkan bahwa ini adalah takdirku
kemudian selesai?
Sebenarnya
sudah berkali-kali aku mengutarakan inginku yang kurasa sederhana. Lebih
sederhana daripada ingin-ingin wanita lain seusiaku. Aku hidup dalam ramai
namun kesepian tetap mengikat. "Ah,
kau sandarkan saja inginmu itu pada Tuhan, satu2nya tempat bergantung".
Itu mungkin bias terasa di hati. Ya, tentu aku hanya bergantung padaNYA. Tapi
apakah aku tak berhak bersandar pada bahu yang sama dengan bahuku, manusia.
Dilema. Ya Dilema. Aku tak punya pilihan. Kecuali mengurai bulir bening tak
henti. Ucapmu menyentak tapi membuatku tertawa. Ini memang bukan akhir dunia. Tapi
berulang kali dan sepertinya menjadi gerbang besar penjara yang selalu
menyakitkan. Perih ini memang seperti bukan punyaku saja. Tapi, Aku tak sekokoh
itu. Lalu dimana niatan mulia yang kita sebut membangun peradaban? Entah ciap 7
mujahid dan mujahidah itu akan lantang atau merapuh seperti Aku, induknya?
Aku kecewa
dengan keputusan yang tak pernah kita bicarakan. Kau telah memutuskan tanpa
bicara. Padahal nyata kita akan melangkah dalam alunan yang sama. Aku merasa
ganjil. Atau memang tak ada hakku atas segala yang menjadi putusan? Ya, memang
sepertinya Aku hanya harus menerima. Tak boleh meminta banyak. Pilihannya
menghentak. Terima atau mencari kenyamanan lain yang sederhana seperti mimpiku.
Aku dan kau menapak pada keyakinan yang berbeda. Ku bilang ini adalah bentuk
juang, kau bilang ini takdir. Aku mengalah. Membiarkanmu memilih yang katanya
bukan pilihan, tapi garisan. Baik. Ini bukan akhir dunia, tapi mengakhiri mimpi
yang begitu sederhana. Menjadi kekosongan tak henti antar insan. Aku hanya
boleh bergantung pada Tuhan, Rabb ku. Dan tiadalah berhak menagih kecintaan
dari makhlukNya. Titik dimana aku berserah.
Langit
Jingga,
14 Maret
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar