Sabtu, 14 Februari 2015

Sesederhana itu saja....


Apakah aku punya hak untuk berkata kecewa? Apakah ada hakku untuk memilih atau setidaknya menjelaskan inginku? Apakah hanya boleh kau sandarkan bahwa ini adalah takdirku kemudian selesai?

Sebenarnya sudah berkali-kali aku mengutarakan inginku yang kurasa sederhana. Lebih sederhana daripada ingin-ingin wanita lain seusiaku. Aku hidup dalam ramai namun kesepian tetap mengikat. "Ah, kau sandarkan saja inginmu itu pada Tuhan, satu2nya tempat bergantung". Itu mungkin bias terasa di hati. Ya, tentu aku hanya bergantung padaNYA. Tapi apakah aku tak berhak bersandar pada bahu yang sama dengan bahuku, manusia. Dilema. Ya Dilema. Aku tak punya pilihan. Kecuali mengurai bulir bening tak henti. Ucapmu menyentak tapi membuatku tertawa. Ini memang bukan akhir dunia. Tapi berulang kali dan sepertinya menjadi gerbang besar penjara yang selalu menyakitkan. Perih ini memang seperti bukan punyaku saja. Tapi, Aku tak sekokoh itu. Lalu dimana niatan mulia yang kita sebut membangun peradaban? Entah ciap 7 mujahid dan mujahidah itu akan lantang atau merapuh seperti Aku, induknya? 

Aku kecewa dengan keputusan yang tak pernah kita bicarakan. Kau telah memutuskan tanpa bicara. Padahal nyata kita akan melangkah dalam alunan yang sama. Aku merasa ganjil. Atau memang tak ada hakku atas segala yang menjadi putusan? Ya, memang sepertinya Aku hanya harus menerima. Tak boleh meminta banyak. Pilihannya menghentak. Terima atau mencari kenyamanan lain yang sederhana seperti mimpiku. Aku dan kau menapak pada keyakinan yang berbeda. Ku bilang ini adalah bentuk juang, kau bilang ini takdir. Aku mengalah. Membiarkanmu memilih yang katanya bukan pilihan, tapi garisan. Baik. Ini bukan akhir dunia, tapi mengakhiri mimpi yang begitu sederhana. Menjadi kekosongan tak henti antar insan. Aku hanya boleh bergantung pada Tuhan, Rabb ku. Dan tiadalah berhak menagih kecintaan dari makhlukNya. Titik dimana aku berserah.

Langit Jingga,
14 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar