"Ibu Cantik........"
Iya, kalimat pendek itu begitu melayangkan aku ke
langit. Siapa gerangan yang berani menggombal
sesiang itu?
Siang itu menunjukkan pukul 11.30. Saat dimana
anak-anak makan siang. Tapi kelasku kedatangan tamu cilik. Ditemani Pak Dede,
Sang Fasilitator, gadis cilik ini memasuki kelas dan duduk bersama salah satu
kelompok di kelas. Ia memulai membuka makan siangnya. Tunggu-tunggu, mungkin
anda masih berfikir, apa masalahnya?
Bukankah benar sedang saatnya makan siang? Benar, tapi untuk SD. Tidak untuk
Taman Kanak-kanak. Semestinya ini sudah saatnya ia beres-beres dan menunggu
saat pulang. Sudah menjadi suatu aturan di sekolah kami, jika makan terlalu
lama akan dipindahkan ke kelas lain dengan harapan ada efek jera. Sehingga
kedepannya dapat lebih fokus menyelesaikan makan siangnya.
Ku amati ia lamat-lamat dari balik meja. Ia asik
memain-mainkan cumi-cumi yang disangkutkan di ibu jarinya. Ia memperlakukannya
seolah-olah sedang memainkan dot-nya.
Sesekali manarik helai demi helai mi telor goreng buatan bundanya. Ya, pantas
saja lama. Lamunan lebih mendominasi ritual makan siangnya. Belum lagi
kegemarannya memain-mainkan makanan.
Complete.
Fasilitator kelasku pun menghampirinya. Sedikit
merunduk, menyejajarkan dengan sang putri kecil. Memintanya agar tak memainkan
cumi-cumi dan segera makan. Dengan santun dan ramah namun Bu Ita tetaplah
tegas. Bukan sembarang, semua demi kemandirian dan kedisiplinan si kecil.
Sampai di situ, ia memang berhenti memainkan cumi-cumi, namun tetaplah hanyut
dalam lambung lamunannya. Oh dear, sedang
memikirkan apa sebenarnya dirimu?
Jam menunjukkan pukul 12 tepat semua penghuni kelas
sudah berhambur menuju masjid. Tinggallah aku sendiri. Sampai aku sadar bahwa
aku tak sepenuhnya sendiri. Ya, gadis cilik itu masih duduk dalam kelas.
Aihhhhhh, kenapa tak sadar sedari tadi? Sedikit rasa bersalah menyelinap. Ku
hampiri ia yang sedang rapi-rapi Lunch
Box nya.
“Mau kemana? ”
“Mau ke kelas,
Bu. Kata Pak Dede kalau sudah habis boleh ke kelas.”
“Memang sudah
habis?”
“Emm, sudah.”
Benar sudah habis. Cumi-cuminya yang habis. Nasinya
masih seukuran semula, nyaris tak berkurang. Mi nya memang menyusut, tapi tak
banyak. Tarik nafas panjang, ku coba memintanya menghabiskan segera.
“Ini masih ada. Dimakan dulu ya. Coba habiskan.” Aku
berujar setenang mungkin sembari membiaskan senyum kecil agar ia tak bersungut
dan takut.
Ia hanya menarik kotak makan yang semula dekat
tanganku dan mulai melahapnya. Begitu terus, sembari ku damping ia makan di
hadapannya. Ia tekun menyelesaikan makanannya. Ya, sampai benar-benar selesai.
Kecuali terhenti dengan sisa nasi yang tak begitu banyak karena lauk telah
habis.
Ku pandangi si gadis kecil ini dengan cermat. Bulu
matanya lentik memanjang, sungguh cantik. Kulitnya putih seperti tanpa cela
setitik pun. Bibirnya tipis, manis. Rambutnya? Aku tak tau. Kecantikannya
bertambah dengan kerudung mungilnya. Sempurna sekali si kecil ini.
Lamunku buyar, ketika aku sadar bahwa aku belum tahu
siapa namanya. Ku beranikan diri untuk bertanya. Semoga si kecil berkenan.
“Namamu siapa,
Nak?”
“Ashya”
Aku senyum, namanya cantik. Secantik rupanya. Tetiba
ia melanjutkan katanya.
“Ibu Cantik”
Hahahaha, dalam hati ingin sekali menyeletuk, gombal. Tapi sekuatnya aku tahan. Hanya
senyum lebar sambil menjawab, “Ashya juga
cantik”.
Itu adalah bagian-bagian kepolosan dan ketidakdugaan
celetukan anak-anak yang menggembirakan, menyenangkan. Tidak hanya itu.
Sebelumnya aku pernah diceletuki “kok ibu
kurus?”, “ibu kerudungnya kayak gorden”, “ibu umurnya berapa sih? Masih kuliah
apa sekolah? Kok kecil?”.
Hahaha, lucu-lucu dan menyenangkan. Kepolosan yang
selalu aku rindukan. Yang selalu aku cintai. Dengan segenap hati.
“Ibu namanya
siapa?”
“Putri”
Ashya tersenyum dan merapikan peralatan makannya
sambil bercerita kalau ia akan pentas menyanyi. Tak sungkan ia praktekan lagu
yang kelak dibawakan oleh ia dan teman-temannya. Ah, Ashya. Lucunya kamu, Nak.
Lepas itu semua Ashya harus kembali ke kelasnya dan
segera pulang. Lamat ku pandangi sampai
punggungnya menghilang melewati satu persatu anak tangga. Dan pagi ini, ia
menyapaku dari dalam kelasnya dengan riang ketika aku lewat.
“Bu
Puteriiiiiiiiiii”
Langit Jingga
20 Maret 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar