Sabtu, 14 Februari 2015

Celoteh-celoteh Riang


"Ibu Cantik........"

Iya, kalimat pendek itu begitu melayangkan aku ke langit. Siapa gerangan yang berani menggombal sesiang itu?

Siang itu menunjukkan pukul 11.30. Saat dimana anak-anak makan siang. Tapi kelasku kedatangan tamu cilik. Ditemani Pak Dede, Sang Fasilitator, gadis cilik ini memasuki kelas dan duduk bersama salah satu kelompok di kelas. Ia memulai membuka makan siangnya. Tunggu-tunggu, mungkin anda masih berfikir, apa masalahnya? Bukankah benar sedang saatnya makan siang? Benar, tapi untuk SD. Tidak untuk Taman Kanak-kanak. Semestinya ini sudah saatnya ia beres-beres dan menunggu saat pulang. Sudah menjadi suatu aturan di sekolah kami, jika makan terlalu lama akan dipindahkan ke kelas lain dengan harapan ada efek jera. Sehingga kedepannya dapat lebih fokus menyelesaikan makan siangnya.

Ku amati ia lamat-lamat dari balik meja. Ia asik memain-mainkan cumi-cumi yang disangkutkan di ibu jarinya. Ia memperlakukannya seolah-olah sedang memainkan dot-nya. Sesekali manarik helai demi helai mi telor goreng buatan bundanya. Ya, pantas saja lama. Lamunan lebih mendominasi ritual makan siangnya. Belum lagi kegemarannya memain-mainkan makanan. Complete.

Fasilitator kelasku pun menghampirinya. Sedikit merunduk, menyejajarkan dengan sang putri kecil. Memintanya agar tak memainkan cumi-cumi dan segera makan. Dengan santun dan ramah namun Bu Ita tetaplah tegas. Bukan sembarang, semua demi kemandirian dan kedisiplinan si kecil. Sampai di situ, ia memang berhenti memainkan cumi-cumi, namun tetaplah hanyut dalam lambung lamunannya. Oh dear, sedang memikirkan apa sebenarnya dirimu?

Jam menunjukkan pukul 12 tepat semua penghuni kelas sudah berhambur menuju masjid. Tinggallah aku sendiri. Sampai aku sadar bahwa aku tak sepenuhnya sendiri. Ya, gadis cilik itu masih duduk dalam kelas. Aihhhhhh, kenapa tak sadar sedari tadi? Sedikit rasa bersalah menyelinap. Ku hampiri ia yang sedang rapi-rapi Lunch Box nya.

“Mau kemana? ”
“Mau ke kelas, Bu. Kata Pak Dede kalau sudah habis boleh ke kelas.”
“Memang sudah habis?”
“Emm, sudah.”

Benar sudah habis. Cumi-cuminya yang habis. Nasinya masih seukuran semula, nyaris tak berkurang. Mi nya memang menyusut, tapi tak banyak. Tarik nafas panjang, ku coba memintanya menghabiskan segera.

“Ini masih ada. Dimakan dulu ya. Coba habiskan.” Aku berujar setenang mungkin sembari membiaskan senyum kecil agar ia tak bersungut dan takut.

Ia hanya menarik kotak makan yang semula dekat tanganku dan mulai melahapnya. Begitu terus, sembari ku damping ia makan di hadapannya. Ia tekun menyelesaikan makanannya. Ya, sampai benar-benar selesai. Kecuali terhenti dengan sisa nasi yang tak begitu banyak karena lauk telah habis.

Ku pandangi si gadis kecil ini dengan cermat. Bulu matanya lentik memanjang, sungguh cantik. Kulitnya putih seperti tanpa cela setitik pun. Bibirnya tipis, manis. Rambutnya? Aku tak tau. Kecantikannya bertambah dengan kerudung mungilnya. Sempurna sekali si kecil ini.

Lamunku buyar, ketika aku sadar bahwa aku belum tahu siapa namanya. Ku beranikan diri untuk bertanya. Semoga si kecil berkenan.

“Namamu siapa, Nak?”
“Ashya”

Aku senyum, namanya cantik. Secantik rupanya. Tetiba ia melanjutkan katanya.

“Ibu Cantik”

Hahahaha, dalam hati ingin sekali menyeletuk, gombal. Tapi sekuatnya aku tahan. Hanya senyum lebar sambil menjawab, “Ashya juga cantik”.

Itu adalah bagian-bagian kepolosan dan ketidakdugaan celetukan anak-anak yang menggembirakan, menyenangkan. Tidak hanya itu. Sebelumnya aku pernah diceletuki “kok ibu kurus?”, “ibu kerudungnya kayak gorden”, “ibu umurnya berapa sih? Masih kuliah apa sekolah? Kok kecil?”.

Hahaha, lucu-lucu dan menyenangkan. Kepolosan yang selalu aku rindukan. Yang selalu aku cintai. Dengan segenap hati.

“Ibu namanya siapa?”
“Putri”

Ashya tersenyum dan merapikan peralatan makannya sambil bercerita kalau ia akan pentas menyanyi. Tak sungkan ia praktekan lagu yang kelak dibawakan oleh ia dan teman-temannya. Ah, Ashya. Lucunya kamu, Nak.

Lepas itu semua Ashya harus kembali ke kelasnya dan segera pulang.  Lamat ku pandangi sampai punggungnya menghilang melewati satu persatu anak tangga. Dan pagi ini, ia menyapaku dari dalam kelasnya dengan riang ketika aku lewat.

“Bu Puteriiiiiiiiiii”

Langit Jingga
20 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar