Sabtu, 14 Februari 2015

Sepucuk Surat dari Kota Hujan


 
Teruntuk Sahabat Pena di Tengah Pulau Jawa,
Salam hangat dari jauh duhai teman penaku yang belum pernah ku sapa sebelumnya.

Sepucuk surat dari kota hujan.
Aku seorang pecinta hujan yang ditakdirkan Tuhan menyapa dunia di kota hujan. Atau mungkin aku menjadi pecinta hujan karena sedari kecil diakrabi dengan rintikan air dan hawa sejuk yang mememeluk.
Duhai saudariku, sembari ku tuang prosa hati ini aku pun tengah merindu hujan. Sama merindunya dengan menulis sepucuk surat ke sahabat. Dulu sekali, semasa kanak-kanak, kotak pos berwarna oranye itu kerap kusinggahi. Majalah kanak-kanak pada masa itu menebar sejumlah sahabat pena untuk ku kirimi. Indah nian masa sahaja itu. Bahkan tak sungkan hari raya menjadi ajang indah bertukar kabar dan salam melalui sepucuk kartu ucapan manis nan ditunggu. Pernahkah kau lalui itu?
Bahkan ketika sahabat kecilku harus hijrah keluar kota, satu-satunya penghubung yang tetap menjaga persahabatan kami adalah sepucuk surat. Masa-masa menanti balasan rasanya tak tergantikan dengan apapun. Setiap pagi ku lirik pos satpam berkaca bening yang menjajarkan surat masuk di sekolah. Dengan harapan, ada amplop bertuliskan namaku. Dan sampai saat ini, tumpukan amplop-amplop itu masih ku jaga dalam kotak kenangan. Tak tergantikan.
Hingga era baru pun tiba. Masa yang gemerlapnya seperti menjanjikan kemudahan yang membahagiakan. Namun nyatanya, tak sesempurna itu. Peran sepucuk surat tergantikan dengan kemudahan dan kecepatan surat pendek melalui ponsel. Bisa dibayangkan bila pesan pendek melalui ponsel singgah ke nomer tak dikenal dengan alasan sahabat pena? Ah, pastilah ditertawakan. Dihapus, tak dipercaya. Hilang sudah masa-masa emas kepenaanku.
Dan kini, kutemukan lagi indahnya masa belasan tahun silam. Sepucuk surat dari kota hujan, meluncur untuk singgah di kotamu, saudariku. Membiarkan Pak Pos mengetuk pintu rumahmu, dan menemui dengan senyumnya. Menghantar sepucuk surat dari kota hujan. Dari aku yang belum pernah kau kenal sebelumnya.
Ku harap engkau tersenyum dan bahagia ketika rangkaian kata ini menggiring ingatanmu kembali pada masa surat-menyurat dulu. Dan juga menerimaku sebagai saudarimu, saudari penamu. Kelak satu masa kau singgahi kotaku, akan kusajikan permadani cerita untuk menjamumu.
Cukuplah malam ini kurasa indah, hingga sulit kusudahi rangakaian kata ini. Semoga saja, hari engkau membuka dan membaca prosa ini, kau jadikan satu dari ribuan memori indah kepenulisanmu. Semoga.

Dariku, Sang Pecinta Hujan
Langit Jingga
Fiksiana Community – Kompasiana ( September 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar