Teruntuk Sahabat Pena di Tengah Pulau Jawa,
Salam hangat dari jauh duhai teman penaku yang
belum pernah ku sapa sebelumnya.
Sepucuk surat dari kota hujan.
Aku seorang pecinta hujan yang ditakdirkan
Tuhan menyapa dunia di kota hujan. Atau mungkin aku menjadi pecinta hujan
karena sedari kecil diakrabi dengan rintikan air dan hawa sejuk yang mememeluk.
Duhai saudariku, sembari ku tuang prosa hati
ini aku pun tengah merindu hujan. Sama merindunya dengan menulis sepucuk surat
ke sahabat. Dulu sekali, semasa kanak-kanak, kotak pos berwarna oranye itu kerap
kusinggahi. Majalah kanak-kanak pada masa itu menebar sejumlah sahabat pena
untuk ku kirimi. Indah nian masa sahaja itu. Bahkan tak sungkan hari raya
menjadi ajang indah bertukar kabar dan salam melalui sepucuk kartu ucapan manis
nan ditunggu. Pernahkah kau lalui itu?
Bahkan ketika sahabat kecilku harus hijrah
keluar kota, satu-satunya penghubung yang tetap menjaga persahabatan kami
adalah sepucuk surat. Masa-masa menanti balasan rasanya tak tergantikan dengan
apapun. Setiap pagi ku lirik pos satpam berkaca bening yang menjajarkan surat
masuk di sekolah. Dengan harapan, ada amplop bertuliskan namaku. Dan sampai
saat ini, tumpukan amplop-amplop itu masih ku jaga dalam kotak kenangan. Tak
tergantikan.
Hingga era baru pun tiba. Masa yang
gemerlapnya seperti menjanjikan kemudahan yang membahagiakan. Namun nyatanya,
tak sesempurna itu. Peran sepucuk surat tergantikan dengan kemudahan dan
kecepatan surat pendek melalui ponsel. Bisa dibayangkan bila pesan pendek melalui
ponsel singgah ke nomer tak dikenal dengan alasan sahabat pena? Ah, pastilah
ditertawakan. Dihapus, tak dipercaya. Hilang sudah masa-masa emas kepenaanku.
Dan kini, kutemukan lagi indahnya masa belasan
tahun silam. Sepucuk surat dari kota hujan, meluncur untuk singgah di kotamu,
saudariku. Membiarkan Pak Pos mengetuk pintu rumahmu, dan menemui dengan
senyumnya. Menghantar sepucuk surat dari kota hujan. Dari aku yang belum pernah
kau kenal sebelumnya.
Ku harap engkau tersenyum dan bahagia ketika
rangkaian kata ini menggiring ingatanmu kembali pada masa surat-menyurat dulu. Dan
juga menerimaku sebagai saudarimu, saudari penamu. Kelak satu masa kau singgahi
kotaku, akan kusajikan permadani cerita untuk menjamumu.
Cukuplah malam ini kurasa indah, hingga sulit
kusudahi rangakaian kata ini. Semoga saja, hari engkau membuka dan membaca
prosa ini, kau jadikan satu dari ribuan memori indah kepenulisanmu. Semoga.
Dariku, Sang Pecinta Hujan
Langit Jingga
Fiksiana Community – Kompasiana ( September
2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar